Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

ASIAN GAMES 2018


Saya juga ikut Asian Games 2018!

Memang perut saya gak kotak-kotak kek roti sobek ala Jonatan Christie (Jojo) yang adegan buka bajunya selepas pertandingan bulutangkis jadi viral dan bikin abegeh-abegeh hingga emak-emak jerit-jerit ( Coba kalau saya yang buka baju, insha Allah dilempar duren).

Image result for jonatan christie
Jojo lempar kaos dan dapet emas, emak-emak pun lemas. Sumber: voaindonesia.com
Memang saya gak bisa lari sekencang Lalu Muhammad Zohri sang peraih perak lari estafet 4x100 m. (Saya bisanya cuma lari dari kenyataan. Paittttt emang!)

Saya hanya mantan olahragawan dan ikut berkontribusi untuk Asian Games 2018.

Mantan Olahragawan?

Iya dulu saya pernah jadi atlet renang. Dari umur 5 tahun udah nyemplung ke kolam renang. Mulai kelas 1 SD udah ikut kompetisi renang. Selepas shalat subuh udah nyemplung ke kolam renang. Pulang sekolah kembali ke kolam renang. Seminggu minimal tiga kali. Kalau udah deket-deket kompetisi, latihan bisa tiap hari. Sayang seumur jagung. Gara-gara jatuh cinta sama pramuka, saya akhirnya ‘pensiun’ dari renang saat kelas 1 SMP.

Di salah satu kompetisi renang. Selalu juara ... jongkok.
Setahun setelah pensiun dari renang, saya ngebet pengen jadi petenis. Biar bisa jadi seperti Andre Agassi (petenis idola tahun 90-an), saya pikir. Tujuan saya kalo saya jadi petenis, cuma satu, saya bisa traveling ke Inggris ikut turnamen tenis paling bergengsi di dunia, turnamen Grand Slam Wimbledon. Udah kebayang, tuh, saya bertanding lawan Andre Agassi ditonton oleh ratu Elizabeth dan Lady Diana. Bisa salaman sama sang ratu dan cipika-cipiki dengan Lady Diana (Fyi, pas Lady Diana meninggal gara-gara tabrakan di Paris, saya sedih banget. Cita-cita salaman dan cipika cipiki sama Lady Diana pupus sudah). Yah, kalau gak bisa ikut Wimbledon, bisa lah ikut Asian Games, Sea Games atau minimal Pekan Olah raga Nasional (PON).

Tapi, raket aja gak punya, ya gimana bisa jadi petenis?

Waktu itu orangtua gak ngedukung saya jadi petenis. Olahraga yang mahal, mereka pikir. Ya udah, supaya bisa maksa ayah beli raket, saya rajin nongkrong di sawah. Lha, katanya mau jadi petenis? kok, nongkrongnya di sawah bukan di lapangan tenis? Iya, tiap weekendsaya bela-belain nginep di rumah sodara di daerah timur Bandung yang kebetulan rumahnya pas di depan sawah dan sawahnya di belakang lapangan tenis. Nggak jadi pemungut bola di lapangan tenis, di sawah pun jadi. Resiko terbesarnya paling kulit jadi item dan budugan (borok di kulit).

Saking banyaknya bola tenis yang nyemplung ke sawah, saya bisa panen bola tenis. Sementara yang punya sawah pasti ngebatin. Lah, gimana mau panen, padinya aja diinjek-injek anak-anak bengal pemburu bola tenis. Jadinya kami sering kucing-kucingan dan kejar-kejaran dengan yang punya sawah. Kalo ketangkep bisa-bisa diiket di tengah-tengah sawah macam orang-orangan sawah lalu diseruduk kebo. Aah tatutttttt!

Anyway, bola-bola yang saya panen biasanya udah nggak cakep karena pasti belepotan lumpur sawah. Tapi, dengan sabar saya bersihin. Terus, tiap hari saya gebukin bola tenisnya ke dinding rumah tetangga pake penggebuk kasur terbuat dari rotan. Nggak ada raket, penggebuk kasur rotan pun jadi. Alhasil, tetangga jerit-jerit karena kegiatan “bobo-bobo lucunya” terganggu oleh berisiknya bunyi pantulan bola tenis dan dinding rumahnya retak-retak gara-gara “digebukin” mulu. Akhirnya orang tua saya nyerah. Mereka beliin raket tenis dan masukin saya ke club tenis supaya bisa mewujudkan impian anaknya agar suatu saat nanti bisa ke Inggris ikut Wimbledon.

Andree Agassi wanna be. Dengan baju kedodoran. Waktu aktip tenis dulu. Gustiii ... cupu kalik.
Tapi setelah 5 tahun berjemur hampir tiap hari di lapangan tenis, saya malah tobat jadi petenis gara-gara kulit jadi item, jerawatan, jelek banget dan nggak ada yang mau jadi pacar saya. Puncak-puncaknya ketika ibu saya ngajak konsultasi ke dokter tapi malah bawa saya ke dokter yang salah. Harusnya ke dokter kulit, malah nyasar ke psikiater. Mak, jerawat gue yang menggila bukan guenya yang gila!

Lagi-lagi saya pun pensiun dini.

Perjuangan Olahragawan

Jadi olahragawan ternyata gak gampang. Dibanding dengan perjuangannya Jojo, Lalu, dan atlet-atlit Indonesia yang berprestasi di usia muda atau Om Bambang Hartono sang milyader nomor wahid Indonesia yang usianya udah kepala delapan dan berhasil menyumbangkan medali perunggu cabang Bridge, saya mah gak ada seupil-upilnya mereka.

Baca di salah satu media, selama belasan taun Jojo hanya bisa ketemu ibunya di akhir pekan demi fokus untuk menjadi yang terbaik di cabang bulutangkis. Kemudian Lalu yang hidup sangat sederhana di Lombok bahkan latihan bertahun-tahun tanpa alas kaki saking gak mampu beli sepatu. Tapi keduanya membuktikan bahwa semua pengorbanan mereka gak sia-sia. Jojo berhasil meraih medali emas tunggal putra cabang bulutangkis dan Lalu sebelum meraih perak di Asian Games ke-18 ini terlebih dahulu mengejutkan dunia dengan meraih medali emas pada sprint 100 m IAAF World U20 Championship 2018 di Finlandia. Luar biasa, bukan?

Sementara saya nyerah di usia dini. Dilema antara jadi olahragawan kurang berprestasi dengan masa depan terseok-seok atau jadi murid teladan. Akhirnya, lanjut sekolah. Tapi, tetep gak jadi murid teladan juga.

Tapi saya percaya gak ada ilmu yang sia-sia. Dan selama kita punya keyakinan dan tetap usaha, maka masa depan akan ada digenggaman kita.

Volunteer

Akhirnya saya kembali ‘berjodoh’ dengan dunia olahraga. Dengan Asian Games 2018 yang diselenggarakan dari 18 Agustus hingga 2 Sepetember 2018. Di awali beberapa bulan sebelum penyelenggaran Asian Games ke-18 ini dengan jadi pengajar para sukarelawan, berbagi wawasan seputar dunia pariwisata Indoensia dan Jakarta pada khususnya, lalu ketika Asian Games dimulai ikut berkontribusi sebagai Pramuwisata (tourist guide). Kami memang gak ikut pendaftaran online dan seleksi seperti para sukarelawan pada umumnya. Tapi lewat jalur profesi.

Bergabung dengan tim pramuwisata DKI. Jakarta dibawah naungan HPI (Himpunan Pramusiwata Indonesia) dan Dinas Pariwisata DKI, kami beraksi dari tanggal 19 Agustus hingga 1 September 2018 setiap hari dari pagi sampai malam sebagai tourist guide di bus (tingkat) city tour.

The Tourist Guides. Sumber: Estu



Semua perjalanan bus dimulai dari Athlete Village Kemayoran menu ke beberapa destinasi; Monumen Nasional (Monas), Heritage Tour (Kota Tua), Shopping Tour (Grand Indonesia, Plaza Senayan, Smesco) hingga menikmati pertunjukan budaya Betawi ke Setu Babakan.

Tourist guide on the bus

Bersama delegasi Thailand.
Bersama delegasi Kazakhstan
Salam Pramuwisata!
Ternyata menyengkan loh jadi sukarelawan di event olahraga paling akbar di Asia ini. Ada banyak pengalaman dan keseruan selama tugas. Bisa ketemu atlit-atlit dunia. Salah satunya ketemu para delegasi yang gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Tapi bahasa bukan kendala. Selama badan masih bisa bergerak, mulut masih bisa berceloteh cukup goyang dan berdendang. Semua pun senang.


Kami pun menjadikan Asian Games ini sebagai ajang bertukar budaya. Para delegasi dari berbagai latar budaya, bahasa dan bangsa bisa lebih mengenal Indonesia melalui kami, dan kami pun bisa mengenal dunia melalui kehadiran mereka (para delegasi). Di atas bus kami bercerita, berdiskusi, bercanda, bernyanyi sampai menari. Semoga kehadiran kami para pramuwisata di Asian games 2018 ini menjadi sumbangan bagi negeri.

It’s Time To Move On

Pesta telah usai. Opening ceremony yang megah, yang kabarnya lebih keren daripada acara upacara pembukaan olimpiade sekalipun dan ditutup dengan closing ceremony yang gak kalah kerennya. Keberhasilan Indonesia bersanding dengan raksasa-raksasa olahraga Asia dan bahkan dunia di posisi ke-4 dengan perolehan meraih 31 Emas, 24 perak, 43 perunggu patut diacungi jempol. Kita berhasil jauh melampaui target 16 medali emas. Euforia keberhasilan kita sebagai tuan rumah sekaligus dengan prestasi luar biasanya terasa di seantero negeri dan selayaknya kita rayakan dan syukuri. Sekali lagi, selamat untuk Indonesia. Indonesia juara! Tapi, sekali lagi pesta sudah selesai.

Saatnya kita move on. Para Games di depan mata. Mari kita dukung atlet-atlet kita yang beraksi di pesta olahraga khusus kaum difabel ini agar berhasil meraih prestasi terbaik. Selain itu Indonesia pun berencana mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Yuk, mari kita dukung.

Buat om tante yang yang punya anak masih kecil, ponakan atau sepupu yang keliatannya punya bibit dan potensi  bagus jadi atlet, yuk bantu arahkan mereka untuk bisa jadi penerus Jojo, Lalu, Ginting, dll. Support dan arahkan mereka ke potensi terbaiknya. Menang kalah adalah hal biasa yang penting ajari mereka untuk bermental juara.

Jadi atlet bisa jadi berpotensi keliling dunia, sumber rejeki baik (bok, udah liat kan trasferan bonus buat atlet yang bernilai ratusan juta hingga milyaran rupiah?), bisa jadi influencer dan sumber inspirasi bagi pemuda pemudi seantero negeri, apalagi bisa membawa harum nama bangsa. Sebuah ‘profesi’ mulia, bukan?

Buat kita-kita yang ‘dewasa’ mari berdoa supaya diberi kesehatan dan usia untuk bisa menyaksikan Indonesia jadi tuan rumah Olimpiade 2032 dan siapa tau kita masih bisa berkontribusi. Jadi sukarelawan, mungkin? Semoga masih kuat ya bok kerja bareng dedek-dedek gemes. Hahaha.

SALAM OLAHRAGA!

45 komentar untuk "ASIAN GAMES 2018"

Ariefpokto 17 September 2018 11.20 Hapus Komentar
Inspirational sekali lho. Beneran jadi duta Indonesia yg baik sbg guide para atlet Asian Games
Suciarti Wahyuningtyas (Chichie) 18 September 2018 00.27 Hapus Komentar
Ah keren banget kang Idfi, bisa jadi guide di acara ASIAN Games. Aku juga nih bilang sama anakku nanti kalau besar mau ya jadi atlet renang atau silat biar kamu bisa dilihat seluruh dunia. Ini keinginan emaknya banget sih emang
Kurnia amelia 18 September 2018 01.03 Hapus Komentar
Aduhhh salfok deh sama foto Jojo wkwkwkw,,Kang Idfi meuni keren pisan euy bisa jadi Guidenya para atlet pasti pengalaman yang tak terlupakan banget yes. Btw pastinya banyak kenalan atlet luar nih hehehe.
idfipancani 18 September 2018 03.30 Hapus Komentar
haturnuhun aiiiiiip :) Alhamdulillah dapat kesempatan berkontribusi di event bersejarah ini.
idfipancani 18 September 2018 03.30 Hapus Komentar
semoga anakmu pun punya keinginan dan impian yang sama yaaaa...
idfipancani 18 September 2018 03.31 Hapus Komentar
hahaha jojo emang suka bikin galfok yaaa... btw, iya saya ketemua banyak arlit luar negeri tapi ga ada yang familiar hahahhah
Nchie Hanie 18 September 2018 05.16 Hapus Komentar
Mantaap niih menjadi bagian xari Asean Games, sesuatu yaa..
Btw, gagal pokus sama jojooo, sispeek...
idfipancani 18 September 2018 06.32 Hapus Komentar
iyaaah seruuu yaaka ada Asian Games dan bisa terlibat. Btw I wish punya perut kek jojo.
Tati Suherman 18 September 2018 20.53 Hapus Komentar
Seru ya bisa jadi volunter aih itu roti sobek beruntung banget bisa liat langsung
idfipancani 19 September 2018 05.47 Hapus Komentar
roti sobek? saya makan malah #rotisobekbeneran hahahah
idfipancani 19 September 2018 05.48 Hapus Komentar
roti sobek? saya makan malah #rotisobekbeneran hahahah
Andiyani Achmad 19 September 2018 20.44 Hapus Komentar
aku liat postingan kang idfi jadi tour guide saat Asian Games di dalam bus gitu. Keren banget!!!
Andri Mastiyanto 19 September 2018 21.10 Hapus Komentar
Pengalaman yg luar biasa banget bro. Daku baru jadi tour guide nya RSKO
idfipancani 19 September 2018 22.19 Hapus Komentar
seneng bisa jd guide buat event akbar. Seenggaknya merasa berguna sekali sbg warganegara berprofesi guide 😁
idfipancani 19 September 2018 22.20 Hapus Komentar
iya sesuatu banget kak. Eh, gue juga dulu berawal dari jadi guide kampus loh 😉
Gita Siwi 22 September 2018 00.53 Hapus Komentar
Keberadaan Voluunter nggak bisa dianggap remeh ya. Apalagi ajang Asia gini. Dulu pernah juga jadi guide festival layang-layang senangnya luar biasa. Goodluck kakak bro.
idfipancani 22 September 2018 05.10 Hapus Komentar
hei kakak Sis. Iya ga ada volunteer ya ga jalan acara gede kek Asian Games atau fest layang2 dll. Yuk ah tetap kibarkan semangat volunteering 😉
Diah Woro Susanti 22 September 2018 19.21 Hapus Komentar
Hahahaha saya baca ini jd bayangin kamu diseret ke psikiater sm emaknya yos hahaha

Ngga ngga bukan itu intinya. Tapi satu catatan saya, utk jd atlet itu ga mudah krn selain soal kekuatan fisik juga passion harus ada, baik dpt dukungan maupun ngga dpt dukungan dr lingkungan sekitarnya ya

Ayo ah semangat hidup sehat biar apa? Hahaa
nursaidr 22 September 2018 22.19 Hapus Komentar
Kayanya emang seru banget ya mas..saya ngeliatin instastory mas idfi di dalam bus bareng delegasi negara lain kayaknya happy dan enjoy bgt ngejalani profesinya..apalagi bisa kenal dunia luar dan bisa memperkenalkan indonesia. Keren ini sih.
Travel Surabaya Jember 23 September 2018 23.31 Hapus Komentar
ini event bersejarahh euy, indonesia hebat. beruntung sempat nonton salah satu pertandingan Volly Putri, Final Thailand vs China
Honey Josep 24 September 2018 04.18 Hapus Komentar
kakak Idfi kereeeeeen!
cici desri 24 September 2018 16.03 Hapus Komentar
ternyata Asian Games memberikan banyak kenangan untuk kita semua ya, gak cuma para atlet aja...
Miranti | jendelakeluarga.com 24 September 2018 16.29 Hapus Komentar
wuiih kereen, pengalaman berharga bangett gaul sama atlet2 internasional, apalagi momentnya di ajang bergengsi kayak asian games seperti ini.
Wian 24 September 2018 16.35 Hapus Komentar
Boooookk thn 2023 aku udah kek apa ya wujudnya? Hahaha... aamiinn insyaAllah indonesia jd tuan rumah dan aku masih bisa ikut menyaksikan kemeriahannya.
zata 24 September 2018 19.04 Hapus Komentar
Kereennn mas Idfi... amin aminnn, awet muda dan fit terus yah biar bisa berpartisipasi di olimpiade nantinya :)
Marga Apsari 24 September 2018 21.34 Hapus Komentar
Seru bangettt! Aku yang kerja di Jakarta aja belum pernah jalan-jalan banget :(
Liswanti 24 September 2018 21.46 Hapus Komentar
Kang Idfi keren banget, seru banget pasti ya. Next mau dong ikut jalan-jalan juga hehe
idfipancani 24 September 2018 21.53 Hapus Komentar
biaaar kek jojo! hahahah #semangathidupsehat
idfipancani 24 September 2018 21.54 Hapus Komentar
seru banget bisa terlibat di Asian Games ini. anywat, terimakasih udah mampir dan ninggalin jejak yaaaa
idfipancani 24 September 2018 21.55 Hapus Komentar
saya juga nonton volley... seru yaaaak. Yang pasti kali ini Indonesia emang luarbiasaaaaah.
idfipancani 24 September 2018 21.55 Hapus Komentar
akhh makaciiiih kakak honeeeeh :)
idfipancani 24 September 2018 21.55 Hapus Komentar
kenangan yang tak terlupakan indeed.
idfipancani 24 September 2018 21.56 Hapus Komentar
hahha bergaul banget yaaak kakakkkk... yang pasti emang berkesan banget sih.
idfipancani 24 September 2018 21.57 Hapus Komentar
2023?2032 kalik kakkk hehehhe yang pasti dirimu udah semakin dewasa haha
idfipancani 24 September 2018 21.57 Hapus Komentar
aaamin aaamin dirimu juga yaaaaa
idfipancani 24 September 2018 21.57 Hapus Komentar
sok atuh jalan-jalan di Jakarta. Banyak hal/tempat seru loooh
idfipancani 24 September 2018 21.58 Hapus Komentar
seru banget banget banget hehehhe yuk atuh mari jalan2 bareng?
idfipancani 24 September 2018 22.05 Hapus Komentar
seru banget banget banget hehehhe yuk atuh mari jalan2 bareng?
unggulcenter 28 September 2018 10.06 Hapus Komentar
itu yang pake kaos kedodoran.. pakai celana ga tuh wkwkwkwk
idfipancani 28 September 2018 18.23 Hapus Komentar
hahahahahpake dooonggggg
idfipancani 28 September 2018 18.23 Hapus Komentar
hahahahahpake dooonggggg
Desy Yusnita 30 September 2018 23.56 Hapus Komentar
Dulu cita-citaku jadi tour guide ka, trus nyerah atau tepatnya g ada jalan menuju kesana. Ya udah kejar impian yang lainnya aja hehehe. Seneng deh baca pengalaman Kang Idfi, jadi semangat.
FaniaSurya 1 Oktober 2018 22.44 Hapus Komentar
Asyik banget nih jadi tour guide. Bisa jetemu atlit2 mancanegara nih.
idfipancani 2 Oktober 2018 00.40 Hapus Komentar
ayooo semangaaat mengejar impian. Eh emang jadinya si impian lain itu apah?
idfipancani 2 Oktober 2018 00.41 Hapus Komentar
iyaaa asyik jadi tour guide bisa ketemu atlit2 mancanegara meskipun gak tau atlit2 itu siapa dari mana atlit apa hahahah