Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Petualangan Ke Taman Nasional Komodo Ala Traveler Modis. Part 3: MUNTAH BERJAMAAH


Komodo udah saya tengok. Meski masih penasaran pengen ngintip tit*t komodo, bener ada dua apa gak, tapi apadaya takut komodonya tersinggung jadi mending skip bagian cek per-titit-an ini dan lanjutin perjalanan aja.

Sambil santap makan siang di boat dengan menu yang gak pernah ada seafood nya (katanyeeeee boat trip di laut pula kok gak ada sea food nya?), kapal pun melanjutkan perjalanan menuju pulau Gili Laba untuk snorkling.


Saya yang kekenyangan, gara-gara makan dua piring nasi (maruk sih), sebenernya pengennya tiduran dulu sambil nurunin makanan yang baru aja beres disantap tapi tau-tau kapal sudah merapat ke pulau Gili Laba. Crew kapal bergegas menurunkan sekoci (perahu kecil) untuk mengangkut kita semua ke tepi pantai. Waduh perut masih kenyang dan udah “dipaksa” snorkling. Tapi it’s okay lah demi melihat alam bawah laut di kepulauan yang tersebar di daerah NTT yang kabarnya indah.

Meskipun panasnya menyengat dan pulau Gili Laba ini gersangnya ampun-ampunan tapi liat pasir putih bersih dengan air laut yang hijau biru bening kok rasanya terlalu sayang kalau cuma nongkrong di perahu doang.

Saat sekoci akan merapat di tepi pantai mata saya menangkap pemandangan yang bikin hati senang dan mata berbinar-binar; ada tiga ekor rusa berlari kesana kemari di atas bukit. Sepertinya sang induk dan dua anak rusa lagi berjemur sambil jalan-jalan cari makanan atau mungkin juga mau nonton turis-turis pake cawet, kecuali si Inggris mister flanel yang mukanya selalu belepotan sun block yang snorklingpun tetep pake flanel andalannya. Sementara Jeng Eni berbuntel ‘burkini’ (selempak renang muslimah) asik kecubak kecubuk di air laut yang landai. Tinggal bawa samurai, mungkin akan bikin orang mikir kek ninja Hatori lagi berenang.

Trip mate yang seru, Jeng Eni Hatori.
Sayangnya kondisi alam bawah laut di pulau gili Laba di spot yang kita selami ternyata gak seindah yang dibayangkan. Banyak koral yang udah mati. Ikan-ikan pun entah berenang kemana. Ah sudahlah. Akhirnya gak berapa lama kita pun kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan.

Terus terang perjalanan kali ini penuh dengan tantangan. Tantangan yang pertama datang dari Raffael (Raffa), bocah berusia 11 tahun, yang selama perjalan ini emang lengket bener sama saya. Bersama adiknya Martin (10 th), mereka berdua lebih sering memilih nangkring bareng saya daripada sama bapaknya. Saya emang semacam magnet buat anak-anak. Kadang saya mikir kalau profesi yang cocok buat saya adalah jadi nanny.

Raffa, saya dan Martin
Semenjak kapal bertolak dari pulau Gili Laba, Raffa langsung menclok disamping saya yang lagi leyeh-leyeh berjemur di depan deck beratapkan birunya langit. Bagaikan burung beo, Raffa berkicau dengan pertanyaan-pertanyaan polos tapi cerdas penuh jebakan betmen;

“hei Idfi, you don’t look like Indonesian to me. Where are you from actually?” Tanya Raffa.
If you don’t believe that I’m Indonesian so can you guess where I am from?” balas saya.
hmmm....AFRICA!” tebak Raffa.
Nope
hmmmm you must be from CHINA!”. Gubrags.

Rupanya dia belum puas karena dia memborbardir saya dengan berondongan pertanyaan.

Raffa: “Idfi, why do men have beard and moustache?”
Saya: “Biar ganteng!”
Raffa: “Idfi, why do we have eyebrow?”
Saya: “Biar kalo keringetan, keringatnya gak langsung “meluncur” ke mata. Plus kalo gak punya alis entar kamu bisa liat setan. Kamu mau liat setan?”
Raffa: “Idfi, why do we have eyelashes?”
Saya: “Ibarat kanopi di rumah supaya melindungi kita dari rasa silau akibat terpaan sinar matahari. Juga biar perempuan bisa pake maskara. Kalau gak punya bulu mata mau dipake dimana maskaranya? Di gigi?”
Raffa: “Idfi, why do we have hair?”
Saya: “Buat perempuan rambut itu mahkota. Kebayang dong kalo perempuan gundul mau dipasang dimana itu konde? Di ketek?”
Raffa: “Idfi, why do we have hairs in our nose?”
Saya: “Buat menyaring bakteri-bakteri.” #tumbenserius
Raffa: “Idfi, why do we have hairs on our hands?”

Gustiiiiiiii ... ini bocah udah kepo, susah pulak nanyanya.

Saya: “Rambut di tangan ya? Hmmmmm ... buat apa ya?”

Dan saat Raffa nanya kenapa ada rambut di tangan, kebetulan, Hans, bapaknya lewat.

“Oh my God! Hands, your kids are really amazing!”Celutuk saya. “Yeah I know, are they getting your nerves?” Tanya Hans. “No, I’m having so much fun with them. Oh ya do you know what these hairs on our hands are for?” Tanya saya. Hans, “Dunno”.
Ah cape deeee. Dan, Raffa pun makin gragas nanya ini itu dengan pertanyaan terakhir, “Idfi, what is nail for?”
“Buat ngupil! Kebanyang kalau gak punya kuku hayo gimana ngupil nya? Pake linggis?” Jawab saya sekenanya. Pucing kepala berbie! 

SUMPAH! Selain puyeng diberondong pertanyaan-pertanyaan Raffa, serangan pusing dan mual makin menjadi-jadi seiring dengan perubahan cuaca yang cukup drastis. Angin berderu-deru kencang, gelombang air laut mengganas hingga mencapai 3 meter. Kapal pun oleng ke kiri kanan terbawa irama gelombang laut yang makin bringas.

Wajah-wajah yang tadinya penuh senyum tawa satu persatu menampakkan wajah pucat. Satu demi satu mereka meninggalkan deck depan kembali ke cabin atau ke deck penumpang. Saya mulai dengar bunyi “HOEK HOEK”. Ada yang muntah. Saya berusaha fokus melihat horizon yang katanya cara ini bisa ampuh buat mengatasi mabuk laut tapi saya pun nyerah. Muntah sampai 3 kali. Pun demikian dengan beberapa pernumpang lain, satu persatu ke WC dengan wajah pucat. Kirain shalat doang yang bisa berjamaah. Ternyata muntah pun bisa berjamaah.

Raffa sendiri enggak tau cape nanya ini itu gak tau mabok juga, dia tampak tertidur pulas dan damai di lantai di bawah teriknya sinar matahari. Dasar bule, demen banget jemuran. Nah, gue kulit orang Cibaduyut, bisa-bisa gosyong kek areng.

Gelombang laut semakin dahsyat. Saya putuskan untuk kembali ke kabin. Saya bisa ngerasain tamparan gelombang laut di dinding kabin kapal yang bertubi-tubi.

Ada rasa takut dan khawatir karena ngebayangin air laut tumpah ke dalam kapal, kapal tercabik-cabik, porak poranda, terbalik kayak di film-film. Saya pun mulai komat-kamit, “ya Tuhan berikanlah keselamatan kepada kami semua. Tuhaaaaan …. saya gak mau mati di tengah lautan dimakan hiu …. Gustiiiiiiii! gueeee belon kawiiiiiiiiin!!!!!”

Kemudian tau-tau udah gak inget apa-apa.

Moral of the story: Kawin dulu sebelum bertualang ...eh ... bukan bukan itu, maksud saya kalau mau boat trip yang nyaman dengan laut tenang coba hindari trip di musim hujan ya kakak.

47 komentar untuk "Petualangan Ke Taman Nasional Komodo Ala Traveler Modis. Part 3: MUNTAH BERJAMAAH"

Unknown 21 Mei 2018 22.38 Hapus Komentar
Dari ngakak sampai ngeri, gimana kondisi kapal setelah ditampar-tampar air laut, Kak?
Puspa 21 Mei 2018 23.34 Hapus Komentar
Aku juga pernah ngalami mabuk laut. Baru kali itu sampai mual banget gara-gara ombak yang tinggi. Widih rasanya nggak enak banget. Salam hangat Idfi:)
Marga Apsari 21 Mei 2018 23.56 Hapus Komentar
Aku pernah sekali naik kapal di tengah hujan deras. Goyang-goyangnya bikin mual ya memang :(
Fenni Bungsu 22 Mei 2018 00.14 Hapus Komentar
Kalau lg di boat makannya seafood, kurang asyik kak, karena kan makannya sambil lihat laut.
Coba deh makan seafoodnya sambil diliatin komodo 😁, entah apa yang terjadi
Reh Atemalem 22 Mei 2018 01.39 Hapus Komentar
Pas kemarin ke Komodo juga gitu. Ke Komodo-nya sih seneng, tapi pas di tengah-tengah laut gitu rasanya pingin bilang: duh gusti permisi saya belum tau rasanya pegang tas birkin, mohon diberi selamaaat..
Helenamantra 22 Mei 2018 08.08 Hapus Komentar
Kocak banget itu anak bule nanya-nanya. LOL. Mungkin mas emang cocok jadi nanny yang sabar ditanyain.
nursaidr 22 Mei 2018 08.51 Hapus Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
nursaidr 22 Mei 2018 08.52 Hapus Komentar
Jadi penasaran sama titit komodonya. Btw kenapa bisa snorkling di tempat kurang bagus ka? Kebetulan dapet tempatnta gak bagus atau memang di sana kurang rekomendasi untuk snorkling?
windhu 22 Mei 2018 10.10 Hapus Komentar
Tahu-tahu nggak inget apa-apa. Ngeri juga, ya. Etapi pas bangun pasti jadi makin inget kawin sebelum bertualang.
Utie adnu 23 Mei 2018 08.22 Hapus Komentar
Seru ya ka,,, pergi traveling bareng apalagi bnyk ceritanya, klo perut kosong, trust perahunya jln ngebut memang bikin mual, next aku mau k sana
cici desri 23 Mei 2018 19.47 Hapus Komentar
duh ketawa geli gitu baca obrolan sam itu bocah xixixi rasa penasarannya tinggi ya mas...
Nurul Dwi Larasati 24 Mei 2018 07.09 Hapus Komentar
Yaahh ga jadi dong lihat torpedonya komodo. Ceriwis sekali ya si bule cilik itu.
Wenny kumala tendean 24 Mei 2018 09.04 Hapus Komentar
Hahahaa... ini ceritanya jadi kocak karena si bocah raffa. Asli bacanya sampai ketawa.
Siti Nurjanah 24 Mei 2018 12.37 Hapus Komentar
Hahahah...udh cocok jd bapak kali Mas. Kan yg jadi 'magnet' anak2 ga sekedar pengasuh
Eh..tapi iya sih..mabok laut itu bikin PR bgt dan ga nyaman di perjalanan
Sapa Dunia 26 Mei 2018 16.04 Hapus Komentar
Saya takut duluan sama komodo, ga bakal liat tititnya juga hehehe
Hida 26 Mei 2018 20.30 Hapus Komentar
Hai mas Idfi..duh dari ngakak sampe ngakak lagi deh bacanya. Eh tapi beneran anak2 tuh emang kalo nanya suka nyerocos kayak petasan betawi ya...hahaha, yang sabar ya mas. Nice share lho, I really enjoy it.
Yunita Tresnawati 27 Mei 2018 22.25 Hapus Komentar
Aahhh selalu suka dan pastinya ngakak baca tulisan Kang Idfi. Oh ya Kak, aku punya pertanyaan yang gengges kaya Raffa, boleh gaa kutanyain?
idfipancani 27 Mei 2018 22.26 Hapus Komentar
kondisi kapal baek-baek ajah tapi penumpangnya yang mabok kakak hehehe
idfipancani 27 Mei 2018 22.28 Hapus Komentar
iye setuju rasanya gak enak banget.Salam hangat jugaaaaaa :)
idfipancani 27 Mei 2018 22.28 Hapus Komentar
dan, troma aku mah karena gelombangnya sampe tiga meteran. Untuk kapal ga sampe porak poranda.
idfipancani 27 Mei 2018 22.29 Hapus Komentar
ish syerem ajah diliatin komodo hehhebe
idfipancani 27 Mei 2018 22.38 Hapus Komentar
hahahha tas birkin .... dasar perempuaaaaan 😂
idfipancani 27 Mei 2018 22.38 Hapus Komentar
iyaa keknya saya cocok jadi nanny hahahha
idfipancani 27 Mei 2018 22.40 Hapus Komentar
kalo penasaran sama titi*nya komodo coba sesekali colek aje kalo ketemu babang komodo heheheh btw iya kmrn pas spotnya kurang bagus buat snorkling keknya
idfipancani 27 Mei 2018 22.40 Hapus Komentar
hahahahha itu daaah ... kawin dulu sebelum bertualang
idfipancani 27 Mei 2018 22.41 Hapus Komentar
waaah kamuh mau kesanah, kapan? have fun yaaaaa
idfipancani 27 Mei 2018 22.41 Hapus Komentar
iya dasar bocah kepo :)
idfipancani 27 Mei 2018 22.42 Hapus Komentar
gak liat torpedo babang komodo malah dapet anak bule kepo ... puciiiing hahhaha
idfipancani 27 Mei 2018 22.43 Hapus Komentar
anak kepo ... jadi kangen juga sama si raffa heheh
idfipancani 27 Mei 2018 22.43 Hapus Komentar
iye emang musti segera nikah nih ... thanks udah ngingetin 😂😁
idfipancani 27 Mei 2018 22.43 Hapus Komentar
ya minimal liat giginye hehehhe
idfipancani 27 Mei 2018 22.44 Hapus Komentar
makasih loh udah mampir dan ninggalin jejak. Syukurlah jika terhibur.
Caroline Adenan 28 Mei 2018 06.15 Hapus Komentar
Titiiit :))

Setauku komodo gak punya titit deh, dia bukannya reptilia ya?
Sadewi 28 Mei 2018 14.48 Hapus Komentar
Raffa seperti nama almarhum anak pertamaku. Lucu banget sih Rafa aku jadi ketawa sendiri baca tulisan ini
urmila utami karmani 28 Mei 2018 21.29 Hapus Komentar
lucu banget sih kaka kontennya, js ketawa sendiri pas bacanya
Unknown 28 Mei 2018 22.36 Hapus Komentar
Hahaha emang perjalanan kaka idfi ini mengundang tawa dah 😂😂😂 masih nunggu edisi selanjutnya dari tulisan ini 👍🏻
idfipancani 30 Mei 2018 07.05 Hapus Komentar
boleeeeeh dong ... tapi nanti siap2 dijitak yaaaa hahahahh
idfipancani 30 Mei 2018 07.07 Hapus Komentar
boh, entah lah 😁
idfipancani 30 Mei 2018 07.08 Hapus Komentar
akunjuga kalo baca tulisan ini suka inget si bocah tengil itu ...
idfipancani 30 Mei 2018 07.08 Hapus Komentar
selamat tertawa hHHHahaha 😁
idfipancani 30 Mei 2018 07.09 Hapus Komentar
hei bang akbarrr ... makasih udah mampirrrrrr :)
Unknown 9 Juni 2018 06.54 Hapus Komentar
nggak minum alkohol, bisa mabuk ya... hehe..
justru pengalaman dihantam ombak ini yang dicari bule2..(kayaknya)
idfipancani 15 Juni 2018 21.52 Hapus Komentar
mabuk gak cuma gegara alkohol, bisa juga mabuk laut ato mabuk cinta hahha
tugu 29 Juni 2018 20.20 Hapus Komentar
wkwkwkwk
Wisatanya seperti adventure aja...
Ceritaeka 30 Juni 2018 05.52 Hapus Komentar
Taoi kamu emang rada mirip chinesse sih kaaak
idfipancani 7 Juli 2018 23.23 Hapus Komentar
emang wisata petualangan ini mah 😁
idfipancani 7 Juli 2018 23.24 Hapus Komentar
masaaaaaaa????? 😂😂😅