LOST IN TRANSLATION

01.47



 Pernah ngalamin ribetnya berkomunikasi dengan orang asing saat traveling?

Saya sih ngalaminnya berkali-kali. Dan salah satu pengalaman paling nggak terlupakan adalah saat di misi kebudayaan di Eropa, tepatnya di sebuah kota kecil di Prancis bernama Rouen.


Saat itu kami gak lagi nggak ada kegiatan. Kami semua belum beranjak kemana-mana dan tetap tinggal di Etap Hotel (sekarang berganti menjadi Hotel Ibis Budget) selama di Rouen.

Waktu udah nunjukin jam 12.00. Jadwalnya makan siang dan kami seharusnya dapet konsumsi makan siang dari panitia setempat. Mengingat sarapan pagi yang disediakan di hotel ini hanyalah berupa roti, selai dan segelas orange juice maka udah pasti, buat kami anak Indonesia yang biasanya makan nasi sebakul, menjelang jam 12 siang perut udah keroncongan.

Setelah satu jam nunggu akhirnya panitia datang bawa satu dus besar berisi makanan. Wuih, para pemuda-pemudi yang sudah kelaparan ini langsung nyerbu dan mengobrak-abrik isi dus. Kami udah bayangin akan makan siang lezat dan kenyang. Minimal ada roti sandwhich isi daging ayam, keju dan tomat serta ada aneka jenis buah-buahan dari anggur, apel hingga jeruk dan berbagai pilihan minuman.

Tapi saat kami ngeluarin isi dus, langsung lemes. Ternyata isi dusnya; baguette (roti prancis panjang) yang keras dan lebih cocok jadi pentungan buat  ngeronda daripada jadi makanan dan berberapa sachet sop instan yang harus kami masak sendiri. Gusti, ini mah sungguh cobaan yang maha berat. Ya, kami belum terbiasa traveling. Dan, opo iki, biasa makan nasi tutug oncom, tetiba dikasih "pentungan".




”Kita ke McDonald yuk? Disana pasti ada PANAS!” Celutuk Galih, salah satu teman yang punya hobi makan.

“PANAS? Apaan tuh?” tanya saya.

“PAKET NASI!" Gubraaaak.


"Apaah? Ga salah lu mau paket nasi? Mang ada di luar Indonesia?" Sumber" invespcro.com

"Kan McDonald mah restoran franchise. Kalo di Indonesia ada PANAS, berarti di luar negeri juga ada.” Jawab Galih sok yakin.
           
Meski nggak terlalu yakin, saya dan dua orang kawan ngikutin Galih ke McDonald. 

Baca juga
Tim Sepakbola Universitas terbaik Di Bandung
Atlet Pencak Silat (Ala-Ala) Beraksi
The Show Must Go On

Begitu giliran kami untuk memesan tiba, Galih yang mimpin keliatan bingung karena semua pilihan menu nggak familiar. Akhirnya dia memberanikan diri nanya.

“Hai ... do you have PANAS?” 


Hellloh? What is PANAS? Sumber: margaretgunnng.blogspot.com

 Do you have rice?” Saya langsung mengambil alih. Si mbak kasir tetep bingung. Tampaknya dia nggak ngerti bahasa Inggris.

“Hmmm ... est-ce qu’il y a du riz, ici?” Saya coba nanya apakah ada nasi dalam bahasa Prancis alakadarnya.Waktu itu saya masih level dasar les bahasa Prancisnya.

Non!”. Nggak ada.

Tuuuuh, kaaaan! Pasti nggak ada paket nasi di Prancis mah. Beuh Galih nih, Sotoy! Galih keliatan gondok banget pas tau nggak ada paket nasi disini. Jadi kami putusin beli burger aja.

Saat mau pesan burger mendadak saya lupa apa itu ayam, sapi, ikan dan babi dalam bahasa Prancis. Ingatan buyar gegara lapar dan senewen.

Dalam kondisi kepepet dan lapar yang nggak ketulungan, entah bisikan dari mana saya nekad menggunakan bahasa Tarzan.

Je voudrais deux MOOOOOO ... un KOK KOK PETOK ... et ...on ne mange pas GROK GROK!”

Artinya saya ingin dua (burger) sapi, satu (burger) ayam dan kami nggak makan babi loh. Ya, pesennya pake bahasa tubuh dengan mengeluarkan suara-suara bintang.

Attend! Attend! Il y a autre!“ Tunggu! Tunggu! Masih ada lagi! Entah datang darimana ide ini, saya, tau-tau merentangkan sekaligus ngibas-ngibas tangan dengan ekspresi muka putat petot kek orang mo tenggelem.

kurang lebih begini lah ekspresinya. Sumber: worldwideinterweb.com

Semua mata pengunjung restoran sontak mandang ke arah saya. Ada yang bingung, ada yang mesem-mesem ngeliat ekspresi konyol saya yang lagi pesen Fish burger sodarah-sodarah!

ȹȹȹ

Saya berhasil membuktikan bahwa bahasa bukan sebuah kendala. Manusia dikaruniai ekspresi dan anggota tubuh yang juga bisa menjadi media untuk berkomunikasi secara non verbal. Buktinya dengan mata merem melek melotot, mulut monyong-monyong, kepala goyang-goyang, tangan kibas sana kibas sini, lalu bersuara seperti beberapa jenis hewan, persis seperti Tarzan ngobrol sama gorila, saya berhasil memesan beef burger (le double cheese), chicken burger (le Mcchichken), fish burger (le filet-o-fish) di McDonald di Rouen, Prancis.

Jangan jadikan ketidakmampuan berbahasa asing sebagai alasan untuk nggak traveling. Memang, lebih baik jika menguasai seenggaknya satu bahasa asing. Misalnya bahasa Inggris yang katanya adalah bahasa Internasional terpenting di dunia.

Tapi ingat bahwa nggak semua negara di dunia penduduknya bisa berbahasa Inggris. Dari hasil penelusuran saya di Mbah Google, negara-negara yang saya kunjungi pada misi kebudayaan ini menggolongkan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua bahkan bahasa minoritas.

Belanda. 90% dari 16.7 juta penduduknya bisa berbahasa Inggris.
Belgia. 60% dari 10.5 juta penduduknya bisa berbahasa Inggris.
Italia. 34% dari 59.6 juta penduduknya Italia bisa berbahasa Inggris.
Prancis. 39% dari 65.3 juta penduduk Prancis bisa bahasa Inggris.
Rusia. Hanya 5,48% dari 138.3 juta penduduknya yang bisa berbahasa Inggris.
  (sumber: wikipedia)

Lalu bagaimana dengan Indonesia? 20% dari 245 juta penduduk di Indonesia  mengetahui dasar-dasar bahasa Inggris tapi hanya ada 5% dari 245 juta penduduk negeri kita yang fasih berbahasa Inggris.

Jika mampu berbahasa Inggris dengan fasih, ya bagus. Tapi bahasa Inggris bukan segala-galanya. Karena kenyataannya meskipun sebagia bahasa penutur ke-2 terbanyak di dunia setelah baahsa mandarin tapi nggak semua orang di dunia ini bisa bahasa Inggris. Nggak keitung udah berapa kali saya ketemu backpacker dari berbagai tempat di dunia yang bahasa Inggrisnya nggak keruan tapi mereka tetep pede traveling.

Satu tips dari saya ketika traveling kemanapun tujuannya, bekali diri dengan pengetahuan dasar atau beberapa kata/frase sehari-hari bahasa dari negara yang akan dikunjungi. Kalau travelingnya ke berbagai daerah di Indonesia coba pejari kata-kata kasar/joroknya karena udah biasa banget di sini mah ngerjain pake bahasa/kata-kata jorok. Ya, kan?

Tapi, sekal lagi, siapapun bisa ngalamin kendala bahasa. Ngobrol sana sini nggak ngerti alias lost in translation. Pede aja lagi, kan masih ada satu bahasa yang juga bisa efektif dijadikan sebagai alat komunikasi yaitu BAHASA TUBUH! At least it worked for me.

Tapi, kenapa pas pesen burger di McDonal waktu itu saya nggak coba pake bahasa Inggris aja ya? Kan siapa tau kalo burger mah mereka ngerti. Daripada pake goyang-goyang pantat dan bersuara niruin ayam, sapi, babi dan ikan segala. Kek orang rada-rada. Ah sudah lah.

Kalau sobat traveller pernah ngalamin lost in translation gak?


#travel #Europe #culture #misibudaya

You Might Also Like

9 komentar

  1. Hahahaha kakaaaak maafkan aku ngakak bayangin kejadian di McD itu deh
    Pasti kalian heboh banget bersuara dan memperagakan gaya hewan dimaksud
    Yang aku gak kebayang kalian bilang petokpetok, tapi khan di sana belum tentu ayamnya berbunyi kayak gitu hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. santai .. aku bunyiin suara ayam yang netral. Karena kalo suara ayam jago berkokok udah pasti beda negara beda suara. Di Indonesia bunyinya "KUKURUYUK", di Prancis bunyinya "KOKORIKO" ... di daerah tanah SUnda aja suaranya beda, "KONGKORONGOK". Kudu pake penterjemah itu mah.

      Hapus
  2. Maafin ya Kak, aku bacanya sampe ngakak ngakak dan mengimajinasikannya ala ala reka adegan gitu. Wkwkwkwk.

    Tapi iya sih. Sepengalamanku jaman hobi ikut lomba debat, nggak semua orang jago bahasa inggris-nya. Yang penting bisa ditangkap aja maksudnya dan dipahami bersama sama.

    Cuma ya gitu. Kadang kalo kitanya cas cis cus buat belajar tuh, kalo nggak dijauhin karena malu diajak rendem ya diledek sama temen. Sedih akutuh Kak.

    BalasHapus
  3. been there done that .. I feel you. Tapi peduli amat. Jaman dulu juga aku suka dibullied gegara bahasa Inggrisku beraksen kek mister bean. Yang penting hasilnya aku bisa keliling dunia hihihihi

    Tetap semangattttttt kakakkkk!!!!

    BalasHapus
  4. aku bacanya sambil ngangguk ngangguk kak, padahal aku blom pernah ke luar negri tp karena kerjaan ku sama orang lain jadi aku ngerasa banget tuh yg kaka alamin. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga setelah badai covid-19 ini berlalu, dirimi berkesempatan traveling ke luar negeri yaaaa

      Hapus
  5. coba kalo ada videonya pasti lucu dah hahahah... etapi aku sering yeuh gagap pas disapa orang bule.. padahal mereka pake bahasa sederhana yang ku ngerti jugaaaa... tapi mulut langsung kaku zzzzzz

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kek otomatis grogi kalo berhadapan langsung sama orang asing.

      Anyway,ga ada video-nya euy adegan sih pesen makanaannya ... nanti liat aja kalo ditayangin di bioskop #ngarepmodeon 😂

      Hapus
  6. Pengalamannya sangat berharga sekali ya kak untuk pribadi, sekaligus buat para pembaca blog ini

    BalasHapus

Popular Posts

Follow by Email