The Show Must Go On

06.52


Image result for the show must go on

"Mau alat musiknya gak lengkap kek, penontonnya ilang kek, mau malwadrobe kek. Shit happens. Just don’t give up.  And improvise. Keep calm. The show must go on!"

Gak selamanya hidup kita sesuai dengan apa yang kita rencanakan, begitu pula dengan misi kebudayaan kami. Sepertinya, gak cukup dengan memiliki misi mulia maka semuanya akan dilancarkan.

Tanggal 25 Mei 2001, setelah menempuh belasan jam perjalanan, akhirnya kami semua tiba dengan selamat di Moskow, Rusia. Tapi tidak dengan peralatan musik kami. Angklung, Calung dan kendang gak nongol di bandara udara Sheremetyevo yang penuh dengan petugas bertampang sangar dan bersenjata laras panjang. Seperti mau perang.

Aduh, gimana ini, padahal besok kami perlu instrumen yang lengkap untuk tampil di hadapan publik Moskow di gedung pertunjukan antik bernama Rabotnikov Iskusstv (Central House of Art Workers).

Hari H peralatan “perang” kami gak kunjung tiba. Akhirnya, kami tampil tanpa angklung, calung dan kendang. Tari-tarian pun jadi andelan. Kami tetap tampil penuh senyum dan semangat sebagai duta budaya bangsa. Inilah penampilan perdana kami di benua Eropa.  Dan sebagai salah satu improvisasi supaya pertunjukannya gak terlalu singkat, kami pun menyanyikan dua lagu Sunda, Panon Hideung dan Pileuleuyan.

Begitu lagu Panon Hideung dinyanyikan, para penonton tampak antusias dan serempak ikut bernyanyi. Lho? Mereka bisa nyanyi lagu Panon Hideung? Tapi liriknya terdengar beda.

Rupanya lagu Panon Hideung ada versi Rusianya. Dalam bahasa Rusia, lagu ini berjudul Ochi Chyornye yang artinya Si Mata Hitam. Lha, Sama dong, kan Panon Hideung juga artinya Mata Hitam.

Salah satu perwakilan gedung ngasih tau kalau lagu itu udah turun temurun jadi lagu rakyat di Rusia sejak abad ke 19. Sementara di Indonesia sendiri lagu Panon Hideung diciptakan oleh sang maestro, Ismail Marzuki, di tahun 1920-an. Oh, jadi sang maestro menggubahnya dari lagu Rusia ini toh. Baiklah.

Pertunjukan pertama, meskipun tanpa angklung, calung dan rampak kendang, terbilang sukses. Penonton memberikan applause yang meriah. Kami pun senang. Kami optimis pertunjukan-pertunjukan selanjutnya akan sukses dan mendapat apresiasi baik dari warga setempat.

ȹȹȹ


Lusanya Angklung dll tiba di Rusia. Alhamdulillah. Sehingga pertunjukkan pamungkas di kota Kapotnya, Rusia, bisa lengkap. Sesaat sebelum tampil, kami melakukan gladi resik. Kami coba semua alat yang baru tiba. Giliran kami bermain angklung, ternyata ada beberapa yang sumbang. Angklung memang sangat sensitif, kena goncangan keras atau terjatuh maka suaranya akan berubah. But the show must go on.

Angklung jadi show permbuka. Meskipun, bagi kami suaranya rada-rada sumbang tapi kami sukses membawakan beberapa lagu dari Halo-Halo Bandung sampai lagu hits milik band lawas legendaris Queen, Bohemian Rhapsody yang megah itu. Saking megahnya, selalu merinding ketika memainkan lagu tersebut dengan angklung. Memainkan sebuah lagu masterpiece dengan instrumen tradisional terbuat dari bambu ternyata berhasil menyihir penonton. Mereka gak berkedip. Mereka berdecak kagum. Mereka memberikan standing applause yang meriah untuk pertunjukan angklung kami. Mereka sangat menikmatinya. Yes!

Ujian sesungguhnya terjadi saat pertunjukan calung. Calung adalah prototipe dari angklung. Kalo angklung dimainkan dengan cara digoyangkan, Calung dimainkan dengan cara memukul batang dari ruas-ruas yang tersusun. Calung juga adalah sebuah pertunjukan yang menghibur dan informatif. Memadukan unsur gerak, tabuh, dan vokal. Biasanya baik pertunjukan dan pemain calung itu informatif, ekspresif, atraktif dan bisa mengundang tawa.

Dengan berkostum ijo neon super genjreng, berselendangkan sarung layaknya abang-abang mau ngeronda,  dan menggunakan ikat kepala, tampil lah kami berlima, termasuk saya, dengan penuh percaya diri. Ke empat teman saya memainkan alat musik calung. Sementara saya jadi vokalis sambil memainkan sebuah alat seperti kentongan dengan beberapa baris di bagian tengahnya agak bergerigi sehingga kalau digesek-gesek dengan menggunakan koin akan menghasilkan bunyi “KESREK KESREK” yang nyaring.

Artist calung dengan kostum ijo genreng. Cakep kan?
Kami berjingkrak-jingkrak, memainkan calung dengan semangat, gak lupa senyum mengembang memperlihatkan gigi kuning kami. Pokoknya, kami serasa artis kondang. Padahal mah main kendang (dan calung). Sebagai vocalist, saya coba nyanyi semaksimal mungkin. Sebuah tembang sunda sebagai pembuka. Kemudian kami menyapa para penonton dalam bahasa Sunda, bahasa Inggris, dan sepatah dua patah kata dalam bahasa Rusia. Mereka terpesona. Kek kesirep gitu. Kami coba berinteraksi dalam bahasa Inggris dan mengajak mereka bernyanyi lagu berbahasa Inggris, I Feel Good, dengan gaya aktraktif to the max. Penonton makin melongo. Kami ajak mereka berdialog dalam bahasa Prancis. Mereka malah makin melongo dengan mulut mangap. Sampai akhirnya kami sadar, gak ada yang ngerti kita kakakkkk!!! JANGKRIK! Krik krik.

Ya, penontonnya STRES. Stres nonton lima pemuda sakit jiwa berbaju ijo genjreng, kayak nagasari, meracau tanpa bisa dimengerti. Kami gak tau bahwa hanya ada 15% dari 146.300.000 jiwa (sensus tahun 2001) di Rusia yang bisa berbahasa asing. Sayangnya, mungkin, penonton yang ada di ruang pertunjukan ada di golongan 85% yang hanya ngerti bahasa Rusia. Sebaliknya, kami sama sekali gak bisa bahasa Rusia. Yeeeeee, pantes kagak nyambung!

ȹȹȹ

Satu persatu penonton meninggalkan gedung pertujukan. Sementara kami masih berjuang menyelesaikan pertunjukan calung kami dengan berbagai improvisasi. Namun, gagal. Semakin banyak orang yang meninggalkan gedung di saat kami beraksi. Pedih broh!

Kami pun menyudahi pertunjukan calung dan meninggalkan panggung. Gondok, kesel, kecewa semua jadi satu. Tapi ada rasa lega juga. Lega bisa kembali ke backstage bertemu wajah-wajah familiar yang tetap memberikan dukungan meski pertunjukan gak berjalan sesuai harapan.

Berikutnya, giliran tari merak beraksi. Lima teman saya yang cantik-cantik dengan gemulainya menari tari merak. Gak semua gemulai sih karena salah satu dari penari merak, Ijah, dikenal sebagai gadis tomboy dan gerakannya pun terlihat macho sehingga dia dikenal dengan sebutan MERAK MACHO. Tapi tetap aja bikin penonton kepo. Bahkan, beberapa penonton yang sempat ngilang saat pertunjukan calung, satu persatu kembali ke ruang pertunjukan. Elaaaaa, tau aja yang tampil cantik-cantik.

Pertunjukan tari merak awalnya berlangsung dengan super lancar. Saya liat dari balik layar backstage, penonton menikmati tiap gerakan para penari merak dengan mata terpukau. Kostum yang wah, riasan yang manglingin, senyum manis kawan-kawan saya bisa matil cowok-cowok bule di bangku penonton dan tentu saja tarian yang indah membuat siapapun yang melihatnya terkesima. Sampai tiba di pertengahan tarian, kemben salah satu penari melorot dan semakin melorot. Sementara para penonton di depan panggung dan kami yang ngintip dari balik tirai di samping belakang panggung semakin melotot. Semua menahan nafas. Sementara yang nari entah sadar entah gak sadar. Dan ...

“TOKET NYA INA NONGOLLLL!” pekik salah satu dari kami di backstage.

Sementara di depan panggung pun terjadi kehebohan. Insiden kemben melorot ini tentunya di luar kuasa kami. Andaikan ini adalah sebuah pertunjukan live di televisi, pasti rating acara tersebut tinggi. Dan gimana kabarnya dengan Ina sang penari? Pastinya hingga hari ini gak bisa ngelupain TRAGEDI TET*K NONGOL.

ȹȹȹ


You Might Also Like

32 komentar

  1. Sebenarnya waktu itu diminta nyanyi Ocye Cyornie full bahasa Russia. Waktu persiapannya 3 jam aja. Alhamdulillah apal. Cuman waktu Manggung, pas pertengahan Lagu groggy, lalu lupa lirik. Bait berikutnya balik lagi aja ke Bahasa Sunda.andai ada MC yg menjelaskan bahwa di Indonesia juga Ada Lagu Ocye Cyornie

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahah aip sang panon hideung yang legendaris 😂 thanks for the detail aip.

      Hapus
  2. mau gimana pun ya kang, the show must go on, meski ada yang tok*etnya keliatan ahahahah sumpah kang, ku ngakak parah baca tulisaann ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. tragedi toke* ini melegenda di antara kita semua sampe hari ini. hahahha.

      Hapus
  3. Aku selalu suka sama cerita-cerita kang Idfi tentang misi kebudayaan, inspiratif banget. Nah apa lagi ini mulai dari drama angklung sampai ada tragedi kemben mlorot bikin ku ngakak ini kang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihihi itu kisah epic bgt *kembenmelorot. Tunggu kelanjutannya deh. Masih ada banyak kisah konyol lainnya.

      Hapus
  4. hahaha, kalo nggak seru gini ceritanya gak ada kenangannya main angklung di rusia, ngakak banget mas idfi

    BalasHapus
  5. Wkwkk endingnya 'klimaks' bangett xD seruu ngebayangin jadi kalian, apalagi ini settnya tahun 2001. Keren mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi iyaaa tragedi kemben melorottt yg epik ... makasih udah mampir dan ninggalin jejak yaaa

      Hapus
  6. Kok aku ketawa mulu yah baca tulisan ini kang? Bisa di jelaskan ga kenapa? Tapi sumpah keren banget tulisan nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku gak bisa bantu jelasin tapi makasih loh udah mampir, ninggalin jejak dan tertawa. Yuuk ketawa lagi hahahha

      Hapus
  7. Ketawa ikut bahagia hahaha. Btw sumpah nggak bisa aku mainin alat ini. Apa harus belajar ketawa dulu eeeeaaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak bisa mainin alat yang mana kakakkk? Calung apa angklung? :)

      Hapus
  8. pengalaman tak terluapka pastinya. oh jadi tausekrang ya asal usul si panon hideung tea...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yes now you know asal usul si panon hideung 👌

      Hapus
  9. Ya ampunnnnnnnnn, hahhahahhaha....
    Ina-nya apa kabar sekarang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kabar baik. kabarnya udah gak nari lagi. tromaaaa hahhaahha #kidding

      Hapus
  10. saya melototin tuh foto artis pake kostum ijo genjreng nyariin muka lo yang mana fi? kok gak ada??
    buat yang tidak biasa mendengarkan angklung mah sumbang juga tetap enak aja didengar, termasuk saya. hahahaha.
    Btw, paragraf terakhir saru ahh.. awas dapat surat cinta dari lembaga penyiaran. wkwkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. adaaaa....nyelip di antara si ijo genjreng pkoknya. 😉

      Hapus
  11. HAHAHAHAHAHA Sumpah aku sampai tahan nafas pas di bagian terakhirnya dan alamaaak epic banget endingnya. Hahahahaha. Sukses bikin aku ngakak kak. Ditunggu kelanjutan ceritanya kak, jadi penasaran setelah insiden itu apa yang terjadi yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. dan,.. ada insiden-insiden lainnya. Stay tuned! 😁

      Hapus
  12. astagaaaaaa pertunjukan yang epic! :D

    BalasHapus
  13. Hahaha, kakak Idfi, saya selalu suka cerita jalan2 traveler modis ini. Kebayang pengunjung yang mayoritas nggak ngerti bahasa yang disampaikan dan ada yang 'nongol di panggung. Gimana cerita penarinya, setelah beberapa tahun kemudian kakak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cerita penarinya beberapa tahun kemudian? Dia melanjutkan hidupnya yang ketjeeeh dengan menjadi seorang ibu dan profesional sakseez tentunya udah ga pake kemben melorot lagi ya kaakkakkk hahahha

      Hapus
  14. kekurangan alat musik jadi tertutupi dengan pembawaan pemain yang heboh, ya.
    dan ternyata Ismail Marzuki bawa lagu Rusia ke Sunda. Keren!

    BalasHapus
  15. Maaaaaasssssds iihhhhh gak boleh liat begituan. Hahahaha

    BalasHapus
  16. Ngikik sih bacanya ,,pasti malu banget itu ya. Btw kang Idfi umurnya berapa sih? penasaran banget, aku tahun 2001 itu baru masuk SMP hehe.

    BalasHapus
  17. Saya tunggu kelanjutan ceritanya, dan saya harap ceritanya lebih lucu dari ini hehehehhe

    BalasHapus

Popular Posts

Follow by Email