ASIAN GAMES 2018

03.12


Saya juga ikut Asian Games 2018!

Memang perut saya gak kotak-kotak kek roti sobek ala Jonatan Christie (Jojo) yang adegan buka bajunya selepas pertandingan bulutangkis jadi viral dan bikin abegeh-abegeh hingga emak-emak jerit-jerit ( Coba kalau saya yang buka baju, insha Allah dilempar duren).

Image result for jonatan christie
Jojo lempar kaos dan dapet emas, emak-emak pun lemas. Sumber: voaindonesia.com
Memang saya gak bisa lari sekencang Lalu Muhammad Zohri sang peraih perak lari estafet 4x100 m. (Saya bisanya cuma lari dari kenyataan. Paittttt emang!)

Saya hanya mantan olahragawan dan ikut berkontribusi untuk Asian Games 2018.

Mantan Olahragawan?

Iya dulu saya pernah jadi atlet renang. Dari umur 5 tahun udah nyemplung ke kolam renang. Mulai kelas 1 SD udah ikut kompetisi renang. Selepas shalat subuh udah nyemplung ke kolam renang. Pulang sekolah kembali ke kolam renang. Seminggu minimal tiga kali. Kalau udah deket-deket kompetisi, latihan bisa tiap hari. Sayang seumur jagung. Gara-gara jatuh cinta sama pramuka, saya akhirnya ‘pensiun’ dari renang saat kelas 1 SMP.

Di salah satu kompetisi renang. Selalu juara ... jongkok.
Setahun setelah pensiun dari renang, saya ngebet pengen jadi petenis. Biar bisa jadi seperti Andre Agassi (petenis idola tahun 90-an), saya pikir. Tujuan saya kalo saya jadi petenis, cuma satu, saya bisa traveling ke Inggris ikut turnamen tenis paling bergengsi di dunia, turnamen Grand Slam Wimbledon. Udah kebayang, tuh, saya bertanding lawan Andre Agassi ditonton oleh ratu Elizabeth dan Lady Diana. Bisa salaman sama sang ratu dan cipika-cipiki dengan Lady Diana (Fyi, pas Lady Diana meninggal gara-gara tabrakan di Paris, saya sedih banget. Cita-cita salaman dan cipika cipiki sama Lady Diana pupus sudah). Yah, kalau gak bisa ikut Wimbledon, bisa lah ikut Asian Games, Sea Games atau minimal Pekan Olah raga Nasional (PON).

Tapi, raket aja gak punya, ya gimana bisa jadi petenis?

Waktu itu orangtua gak ngedukung saya jadi petenis. Olahraga yang mahal, mereka pikir. Ya udah, supaya bisa maksa ayah beli raket, saya rajin nongkrong di sawah. Lha, katanya mau jadi petenis? kok, nongkrongnya di sawah bukan di lapangan tenis? Iya, tiap weekendsaya bela-belain nginep di rumah sodara di daerah timur Bandung yang kebetulan rumahnya pas di depan sawah dan sawahnya di belakang lapangan tenis. Nggak jadi pemungut bola di lapangan tenis, di sawah pun jadi. Resiko terbesarnya paling kulit jadi item dan budugan (borok di kulit).

Saking banyaknya bola tenis yang nyemplung ke sawah, saya bisa panen bola tenis. Sementara yang punya sawah pasti ngebatin. Lah, gimana mau panen, padinya aja diinjek-injek anak-anak bengal pemburu bola tenis. Jadinya kami sering kucing-kucingan dan kejar-kejaran dengan yang punya sawah. Kalo ketangkep bisa-bisa diiket di tengah-tengah sawah macam orang-orangan sawah lalu diseruduk kebo. Aah tatutttttt!

Anyway, bola-bola yang saya panen biasanya udah nggak cakep karena pasti belepotan lumpur sawah. Tapi, dengan sabar saya bersihin. Terus, tiap hari saya gebukin bola tenisnya ke dinding rumah tetangga pake penggebuk kasur terbuat dari rotan. Nggak ada raket, penggebuk kasur rotan pun jadi. Alhasil, tetangga jerit-jerit karena kegiatan “bobo-bobo lucunya” terganggu oleh berisiknya bunyi pantulan bola tenis dan dinding rumahnya retak-retak gara-gara “digebukin” mulu. Akhirnya orang tua saya nyerah. Mereka beliin raket tenis dan masukin saya ke club tenis supaya bisa mewujudkan impian anaknya agar suatu saat nanti bisa ke Inggris ikut Wimbledon.

Andree Agassi wanna be. Dengan baju kedodoran. Waktu aktip tenis dulu. Gustiii ... cupu kalik.
Tapi setelah 5 tahun berjemur hampir tiap hari di lapangan tenis, saya malah tobat jadi petenis gara-gara kulit jadi item, jerawatan, jelek banget dan nggak ada yang mau jadi pacar saya. Puncak-puncaknya ketika ibu saya ngajak konsultasi ke dokter tapi malah bawa saya ke dokter yang salah. Harusnya ke dokter kulit, malah nyasar ke psikiater. Mak, jerawat gue yang menggila bukan guenya yang gila!

Lagi-lagi saya pun pensiun dini.

Perjuangan Olahragawan

Jadi olahragawan ternyata gak gampang. Dibanding dengan perjuangannya Jojo, Lalu, dan atlet-atlit Indonesia yang berprestasi di usia muda atau Om Bambang Hartono sang milyader nomor wahid Indonesia yang usianya udah kepala delapan dan berhasil menyumbangkan medali perunggu cabang Bridge, saya mah gak ada seupil-upilnya mereka.

Baca di salah satu media, selama belasan taun Jojo hanya bisa ketemu ibunya di akhir pekan demi fokus untuk menjadi yang terbaik di cabang bulutangkis. Kemudian Lalu yang hidup sangat sederhana di Lombok bahkan latihan bertahun-tahun tanpa alas kaki saking gak mampu beli sepatu. Tapi keduanya membuktikan bahwa semua pengorbanan mereka gak sia-sia. Jojo berhasil meraih medali emas tunggal putra cabang bulutangkis dan Lalu sebelum meraih perak di Asian Games ke-18 ini terlebih dahulu mengejutkan dunia dengan meraih medali emas pada sprint 100 m IAAF World U20 Championship 2018 di Finlandia. Luar biasa, bukan?

Sementara saya nyerah di usia dini. Dilema antara jadi olahragawan kurang berprestasi dengan masa depan terseok-seok atau jadi murid teladan. Akhirnya, lanjut sekolah. Tapi, tetep gak jadi murid teladan juga.

Tapi saya percaya gak ada ilmu yang sia-sia. Dan selama kita punya keyakinan dan tetap usaha, maka masa depan akan ada digenggaman kita.

Volunteer

Akhirnya saya kembali ‘berjodoh’ dengan dunia olahraga. Dengan Asian Games 2018 yang diselenggarakan dari 18 Agustus hingga 2 Sepetember 2018. Di awali beberapa bulan sebelum penyelenggaran Asian Games ke-18 ini dengan jadi pengajar para sukarelawan, berbagi wawasan seputar dunia pariwisata Indoensia dan Jakarta pada khususnya, lalu ketika Asian Games dimulai ikut berkontribusi sebagai Pramuwisata (tourist guide). Kami memang gak ikut pendaftaran online dan seleksi seperti para sukarelawan pada umumnya. Tapi lewat jalur profesi.

Bergabung dengan tim pramuwisata DKI. Jakarta dibawah naungan HPI (Himpunan Pramusiwata Indonesia) dan Dinas Pariwisata DKI, kami beraksi dari tanggal 19 Agustus hingga 1 September 2018 setiap hari dari pagi sampai malam sebagai tourist guide di bus (tingkat) city tour.

The Tourist Guides. Sumber: Estu



Semua perjalanan bus dimulai dari Athlete Village Kemayoran menu ke beberapa destinasi; Monumen Nasional (Monas), Heritage Tour (Kota Tua), Shopping Tour (Grand Indonesia, Plaza Senayan, Smesco) hingga menikmati pertunjukan budaya Betawi ke Setu Babakan.

Tourist guide on the bus

Bersama delegasi Thailand.
Bersama delegasi Kazakhstan
Salam Pramuwisata!
Ternyata menyengkan loh jadi sukarelawan di event olahraga paling akbar di Asia ini. Ada banyak pengalaman dan keseruan selama tugas. Bisa ketemu atlit-atlit dunia. Salah satunya ketemu para delegasi yang gak bisa bahasa Inggris sama sekali. Tapi bahasa bukan kendala. Selama badan masih bisa bergerak, mulut masih bisa berceloteh cukup goyang dan berdendang. Semua pun senang.


Kami pun menjadikan Asian Games ini sebagai ajang bertukar budaya. Para delegasi dari berbagai latar budaya, bahasa dan bangsa bisa lebih mengenal Indonesia melalui kami, dan kami pun bisa mengenal dunia melalui kehadiran mereka (para delegasi). Di atas bus kami bercerita, berdiskusi, bercanda, bernyanyi sampai menari. Semoga kehadiran kami para pramuwisata di Asian games 2018 ini menjadi sumbangan bagi negeri.

It’s Time To Move On

Pesta telah usai. Opening ceremony yang megah, yang kabarnya lebih keren daripada acara upacara pembukaan olimpiade sekalipun dan ditutup dengan closing ceremony yang gak kalah kerennya. Keberhasilan Indonesia bersanding dengan raksasa-raksasa olahraga Asia dan bahkan dunia di posisi ke-4 dengan perolehan meraih 31 Emas, 24 perak, 43 perunggu patut diacungi jempol. Kita berhasil jauh melampaui target 16 medali emas. Euforia keberhasilan kita sebagai tuan rumah sekaligus dengan prestasi luar biasanya terasa di seantero negeri dan selayaknya kita rayakan dan syukuri. Sekali lagi, selamat untuk Indonesia. Indonesia juara! Tapi, sekali lagi pesta sudah selesai.

Saatnya kita move on. Para Games di depan mata. Mari kita dukung atlet-atlet kita yang beraksi di pesta olahraga khusus kaum difabel ini agar berhasil meraih prestasi terbaik. Selain itu Indonesia pun berencana mencalonkan diri jadi tuan rumah Olimpiade 2032. Yuk, mari kita dukung.

Buat om tante yang yang punya anak masih kecil, ponakan atau sepupu yang keliatannya punya bibit dan potensi  bagus jadi atlet, yuk bantu arahkan mereka untuk bisa jadi penerus Jojo, Lalu, Ginting, dll. Support dan arahkan mereka ke potensi terbaiknya. Menang kalah adalah hal biasa yang penting ajari mereka untuk bermental juara.

Jadi atlet bisa jadi berpotensi keliling dunia, sumber rejeki baik (bok, udah liat kan trasferan bonus buat atlet yang bernilai ratusan juta hingga milyaran rupiah?), bisa jadi influencer dan sumber inspirasi bagi pemuda pemudi seantero negeri, apalagi bisa membawa harum nama bangsa. Sebuah ‘profesi’ mulia, bukan?

Buat kita-kita yang ‘dewasa’ mari berdoa supaya diberi kesehatan dan usia untuk bisa menyaksikan Indonesia jadi tuan rumah Olimpiade 2032 dan siapa tau kita masih bisa berkontribusi. Jadi sukarelawan, mungkin? Semoga masih kuat ya bok kerja bareng dedek-dedek gemes. Hahaha.

SALAM OLAHRAGA!

You Might Also Like

19 komentar

  1. Inspirational sekali lho. Beneran jadi duta Indonesia yg baik sbg guide para atlet Asian Games

    BalasHapus
    Balasan
    1. haturnuhun aiiiiiip :) Alhamdulillah dapat kesempatan berkontribusi di event bersejarah ini.

      Hapus
  2. Ah keren banget kang Idfi, bisa jadi guide di acara ASIAN Games. Aku juga nih bilang sama anakku nanti kalau besar mau ya jadi atlet renang atau silat biar kamu bisa dilihat seluruh dunia. Ini keinginan emaknya banget sih emang

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga anakmu pun punya keinginan dan impian yang sama yaaaa...

      Hapus
  3. Aduhhh salfok deh sama foto Jojo wkwkwkw,,Kang Idfi meuni keren pisan euy bisa jadi Guidenya para atlet pasti pengalaman yang tak terlupakan banget yes. Btw pastinya banyak kenalan atlet luar nih hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha jojo emang suka bikin galfok yaaa... btw, iya saya ketemua banyak arlit luar negeri tapi ga ada yang familiar hahahhah

      Hapus
  4. Mantaap niih menjadi bagian xari Asean Games, sesuatu yaa..
    Btw, gagal pokus sama jojooo, sispeek...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaah seruuu yaaka ada Asian Games dan bisa terlibat. Btw I wish punya perut kek jojo.

      Hapus
  5. Seru ya bisa jadi volunter aih itu roti sobek beruntung banget bisa liat langsung

    BalasHapus
    Balasan
    1. roti sobek? saya makan malah #rotisobekbeneran hahahah

      Hapus
    2. roti sobek? saya makan malah #rotisobekbeneran hahahah

      Hapus
  6. aku liat postingan kang idfi jadi tour guide saat Asian Games di dalam bus gitu. Keren banget!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. seneng bisa jd guide buat event akbar. Seenggaknya merasa berguna sekali sbg warganegara berprofesi guide 😁

      Hapus
  7. Pengalaman yg luar biasa banget bro. Daku baru jadi tour guide nya RSKO

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sesuatu banget kak. Eh, gue juga dulu berawal dari jadi guide kampus loh 😉

      Hapus
  8. Keberadaan Voluunter nggak bisa dianggap remeh ya. Apalagi ajang Asia gini. Dulu pernah juga jadi guide festival layang-layang senangnya luar biasa. Goodluck kakak bro.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hei kakak Sis. Iya ga ada volunteer ya ga jalan acara gede kek Asian Games atau fest layang2 dll. Yuk ah tetap kibarkan semangat volunteering 😉

      Hapus
  9. Hahahaha saya baca ini jd bayangin kamu diseret ke psikiater sm emaknya yos hahaha

    Ngga ngga bukan itu intinya. Tapi satu catatan saya, utk jd atlet itu ga mudah krn selain soal kekuatan fisik juga passion harus ada, baik dpt dukungan maupun ngga dpt dukungan dr lingkungan sekitarnya ya

    Ayo ah semangat hidup sehat biar apa? Hahaa

    BalasHapus
  10. Kayanya emang seru banget ya mas..saya ngeliatin instastory mas idfi di dalam bus bareng delegasi negara lain kayaknya happy dan enjoy bgt ngejalani profesinya..apalagi bisa kenal dunia luar dan bisa memperkenalkan indonesia. Keren ini sih.

    BalasHapus

Popular Posts

Follow by Email