Trip 1000 Dolar Ke Eropa

19.55



Tebe: “Fi ... mau keliling Eropa sebulan gak?”
Saya: “ke Eropa? Sebulan? Seriussssss? Gimana caranya?”
Tebe: “Gampang ... tinggal maen angklung!”
Saya: “Seriussssss?! Cingcay lah! Bungkus ... gue ikut!”
Tebe: “Ok ... tapi bayar seribu dolar ya?!”
HELLLLL NOOOOOOO!!!

Telpon dari sahabat saya, Tebe, di siang bolong di satu hari di bulan Nopember tahun 2000 itu seperti geledek, ngagetin. Reaksi saya waktu itu setelah dapat telpon dari Tebe sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas, saya jingkrak-jingkrak, lompat, teriak-teriak dan ketawa-ketiwi sendiri. Pokoknya kek orang kesurupan.

“Gue ke yurop ... gue ke yurop ... gueeee keeeee yurooooooop”, teriak saya sambil mengepalkan tangan, meninju udara dan lari-lari melingkar-lingkar. Saya pikir, sebuah reaksi yang wajar dari seseorang yang sejak kecil selalu berkhayal dan bermimpi keliling dunia dan tiba-tiba kesempatan untuk mewujudkan impian itu ada di pelupuk mata.

Coba apa reaksimu ketika dapat sebuah kesempatan untuk bisa bepergian ke benua lain sementara kamu belum melihat dunia, belum pernah naik pesawat, belum pernah liat pramugari, paspor aja mungkin belum punya. Mungkin kamu pun akan melakukan hal yang sama, bukan?

Tapi begitu ingat harus bayar seribu dolar untuk biaya pesawat, dokumen, akomodasi dll, saya langsung tertunduk lemas. Duh, duit dari mana?

Orang-orang bilang keliling Eropa selama sebulan hanya dengan bermodalkan $ 1000 itu murah banget. Tapi buat saya yang datang dari keluarga biasa-biasa saja uang sebesar itu sangat besar, apalagi waktu itu saya hanya seorang mahasiswa yang baru mulai nyambi kerja jadi penyiar radio dan nggak seberapa pula pendapatannya. Sebulan bisa dapat lima ratus ribu perak ajah udah lumayan. Saya pun gak tega ngerepotin orang tua, mengingat, saat itu, lagi krisis keuangan. Tapi  kalo gak diambil kesempatan ini, entah kapan lagi kesempatan lainnya akan datang. Ke Eropa, men!

"WHEN THERE IS A WILL, THERE IS A WAY" 

Kalau ada kemauan pasti ada jalan. Saya putuskan untuk ambil kesempatan ini. Daripada nyesel! Urusan uang belakangan aja. Meskipun bokek harus tetap KREATIF (biarpun KERE yang penting AKTIF), kerja keras, jangan mati akal, apalagi, mati gaya. 

Perjalan jadi duta budaya ini dimulai di bulan Mei tahun 2001. Misi kebudyaan ini diinisiasi oleh Jurusan Hubungan Internasional (HI) Universitas Padjadjaran (UNPAD). Saya punya waktu kurang lebih enam bulan sebelum keberangkatan untuk mempersiapkan diri secara materi dan skill.

Selama kurang lebih enam bulan sejak bulan Desember tahun 2000 saya bergabung bersama teman-teman HI UNPAD di pemusatan latihan untuk berlatih bermain angklung, calung, kecapi suling, pencak silat, rampak kendang, tari jaipong, tari ketuk tilu, tari  merak, tari topeng, dan sepakbola. Saya sendiri akhirnya terpilih berpartisipasi di pertunjukan angklung, calung dan sepakbola.

Selama enam bulan itu pula saya harus disiplin membagi jadwal: siaran di pagi hari, latihan di siang hari, sesekali cari uang tambahan dengan memberikan kursus bahasa Inggris privat di sore hari dan sore hingga malam hari kuliah di program ekstensi Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UNPAD ditambah ngerjain setumpuk tugas sampe lewat tengah malam. Belum lagi, jarak dari satu tempat kegiatan ke tempat kegiatan lain berjauhan. Bisa tidur lima jam aja udah bersyukur banget. Tapi saya punya prinsip zero complaint. Gak boleh mengeluh karena saya udah sangat beruntung bisa dapat kesempatan ini. Saat itu saya berharap, semoga, berkat kerja keras dan doa maka duit seribu dolar bisa terkumpul dan saya bisa mewujudkan impian; pergi ke Eropa.

Hingga bulan April saya baru bisa mengumpulkan uang tiga juta rupiah padahal deadline pengumpulan seribu dolar tinggal itungan jari.

Bekerja sebagai penyiar radio apalagi sebagai penyiar baru, hasilnya nggak seberapa. Saya saat itu dibayar sepuluh ribu perak per jam. Sehari siaran hanya dua jam. Sebulan paling dapat empat ratus – lima ratus ribu rupiah. Ngajar privat pun nggak seberapa. Belum lagi uang yang saya dapatkan dari memeras keringat itu harus dipotong biaya dan ongkos sehari-hari.

Tapi Tuhan baik banget. Menjelang deadline penyerahan uang seribu dolar di awal  bulan Mei, ayah saya tiba-tiba menghampiri saya dan ngasih amplop berisi segepok uang. Setelah digabung dan dihitung dengan uang yang saya miliki dan dikonversikan kedalam US Dolar jumlahnya mencapai SERIBU DOLAR.

HOREEEEEEEEE! *Jingkrak-jingkrak.

Ternyata kedua orang tua saya bahkan kerja lebih keras lagi untuk bisa membantu anak tengahnya yang selain suka ngerepotin juga punya segudang impian ini.

Terimakasih Pa. Terimakasih Ma. Terimakasih atas salah satu kado terindah dalam hidupku. You helped me to make my dream come true. You guys rock!


My super heroes; Mama & Papa
ȹȹȹ

Dengan semangat membawa harum nama bangsa dan tekad melihat dunia, plus dengan mengumpulkan uang senilai seribu dolar, saya pun akhirnya tercatat secara resmi sebagai peserta misi kebudayaan (dan olahraga), Pagelaran Seni Sunda dan Sepakbola “Across The Border 2001 Tour”. Cihuyyyyy!

Tanggal 24 Mei 2001 menjadi tanggal bersejarah dalam hidup saya. Untuk pertama kalinya saya ke Bandara Soekarno Hatta bukan sebagai seorang pengantar anggota keluarga yang akan naik haji namun sebagai seorang traveler. Akhirnyaaaaaah! Petjaaah teloooooor!

Untuk pertama kalinya saya jadi tau gimana rasanya geret-geret koper segede gaban dan itupun koper pinjaman karena saya nggak mampu beli koper. Bok, saya harus geret-geret itu koper dengan penuh kasih sayang. Daripada geret-geret koper haji dekil bekas emak babe naik haji. Mana ada tulisannya “SEMOGA JADI HAJI MABRUR”. Dan bagaimana dengan isi kopernya? Baju, celana, kolor dan singlet belel dan belasan cup mie instant. Tipikal traveler kere.

Untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Pramugari. Di bandara saya lihat para pramugara dan pilot yang gagah serta pramugari yang cantik dari berbagai perusahaan penerbangan berjalan beriringan dengan penuh percaya diri.

Untuk pertama kalinya saya naik pesawat terbang. Kami terbang dengan penerbangan dari Rusia, Aeroflot.

Akhirnya saya tau kalau pramugari itu nggak selalu cantik ataupun ramah. Sebelum naik pesawat saya ngebayangin kalo nanti akan ketemu pramugari-pramugari semacam bidadari; muda, tinggi, langsing, semampai, rambutnya pirang, seksi seperti pertenis Anna Kurnikova atau Maria Sharapova. Kan Rusia terkenal dengan perempuan-perempuan cantiknya, pikir saya. Tapi, begitu masuk dan duduk manis di pesawat, barulah saya sadar ternyata pramugari nggak seperti yang saya pikirkan.

Umurnya rata-rata nggak muda, badannya tinggi besar bahkan keker seperti atlet lempar martil dan yang pasti di penerbangan kali ini pramugarinya jarang senyum. Mereka tampak seperti ibu-ibu tiri yang digambarkan di sinetron-sinetron. Ini mah ibu-ibu tiri lagi dateng bulan; galak dan judes.

Dengan berbekal sejuta asa dan impian serta uang saku senilai $150 untuk satu bulan, saya terbang tinggi memulai perjalan perdana sebagai duta budaya ke benua Eropa.

Bersama 41 sahabat baru, saya tampil memperkenalkan seni Sunda dan melakukan serangkaian pertandingan sepakbola persahabatan di beberapa tempat. Penampilan perdana di Rusia, dimulai dari Moskow diikuti kemudian dengan penampilan di Kapotnya. Saat di Prancis, kami juga tampil di Normandie menghibur berbagai lapisan masyarakat. Di Marseille kami tampil di jamuan makan siang di rumah Konsul Jenderal yang saat itu dijabat oleh Bapak Zubir Amin, ayahnya artis Nirina Zubir. Terakhir kami tampil di Amsterdam dihadapan warga Indonesia yang menetap di Belanda dan tentunya penduduk lokal.

Kami juga gak melewatkan kesempatan ini untuk berwisata ke kota-kota penting di Eropa.

Di Moskow, Rusia, dengan dipandu oleh, Mbak Ratih dan Mas Alex, lokal staf kedutaan Indonesia yang baik dan menyenangkan, kami menjajal naik underground metro (kereta bawan tanah). Bagi saya, bukan keretanya yang menarik tapi justru stasiunnya. Contohnya stasiun Kievskaya. Seperti kubah yang memanjang dengan lukisan-lukisan klasik berbingkai ukiran bergaya sama-sama klasik. Lampu gantungnya besar-besar dan juga antik. Stasiun kereta bawah tanah ini lebih mirip museum atau ruangan dansa di sebuah istana, indah.

Kami mengunjungi Red Square (Lapangan Merah), salah satu lapangan kota terluas di dunia. saya nggak melewatkan berfoto dengan latar Katedral abad ke-16 St. Basil yang berarsitektur unik, kubah berbentuk seperti bawang dengan aneka warna mencolok. Unik.

kami juga menyempatkan diri berbelanja di pasar Old Arbat, Malioboronya Moskow. Saya beli boneka Matryoshka, boneka kayu khas Rusia yang bisa “beranak pinak” hingga ada 10-15 boneka yang lebih kecil. Oleh-oleh yang lucu untuk orang-orang tersayang.

Di Prancis kami mengunjungi kiblat fashion dunia, Paris. Kami juga menyusuri Côte d’Azur (dalam bahasa Inggris dikenal dengan sebutan French Riviera),  garis pantai di timur Prancis yang menghadap ke laut Mediterranean. Kami mengunjungi beberapa kota iconic di French Riviera seperti Cannes, kota tempat diselenggarakannya salah satu festival film akbar dunia Cannes Film Festival, ada pula kota terbesar kelima di Prancis yaitu Nice dan kota yang dikenal dengan julukan mutiara dari Prancis, Menton.

Tak ketinggalan negara termungil ke-2 di dunia, Monaco, kami juga datangi. Di Monaco untuk pertama kalinya saya masuk ke kasino.

Di Italia, kami mengunjungi Casa di Giuletta (Juliet’s House) di Verona. Casa di Giuletta ini dipercaya sebagai rumah tempat tinggalnya Juliet dalam cerita tragedi cinta Romeo and Juliet karya William Shakespear yang legendaris.

Kami juga sangat menikmati kunjungan ke kota yang pernah menjadi kekuatan maritim dunia dan terkenal dengan kanal serta gondolanya, Venezia.

Menelusuri lorong-lorong sempit diapit bangunan abad pertengahan di Venezia dan iseng gangguin ratusan burung merpati di Piazza San Marco ternyata sangat menyenangkan. Untung merpatinya nggak ngambek dan nggak pake berak.

Di Venezia pula lah untuk pertama kalinya saya melihat, dari jarak tiga-empat meter, kapal pesiar mewah bersandar di perairan Venezia. Kira-kira seukuran Hotel bertingkat sepuluh atau bahkan lebih dengan panjang sekitar 300-an meter tapi mengapung di air. Gedeeeee bangeeeeeed!

Saat di Belanda, untuk pertama kalinya saya melihat para penjaja cinta mejeng di etalase dengan pakaian serba minim di siang bolong di Red Light Amsterdam. Red Light atau Lampu Merah ini adalah tempat lokalisasi prostitusi. Dari yang kek teteh-teteh cantik berambut pirang sampe yang segede kulkas tiga pintu juga ada. Ampun dijeeeey!

Kami juga pergi ke kota nelayan Volendam dan tentunya berfoto dengan pakaian tradisional Volendam. Pengennya berkunjung ke Keukenhof Garden, kebun yang terkenal dengan  tulipnya. Sayangnya musim bunga tulip udah lewat. Kalau mau liat Tulip sedang mekar, datanglah ke Belanda di pertengahan bulan April.

Karena tulipnya nggak ada, jadinya kami pindah tujuan ke Zaanse Schans, sebuah desa yang menjadi salah satu tujuan turis terpopuler di Belanda dengan ciri khas rumah-rumah kayu, kincir angin kayu, sungai Zaan, dan padang rumput yang luas dimana kambing dan sapi dapat merumput dengan tenang. Di Zaanse Schans ini kami sempat mampir ke salah satu rumah yang menjual aneka suvenir khas Belanda berupa klompen (sepatu kayu), keju dan coklat. Coklatnya enyaaak!

Selama di Belanda saya beserta teman-teman cowok menginap di Wisma Kedutaan di Wassenar, Den Haag. Saya ingat, waktu itu ada ibu Sofner yang selalu masak masakan Indonesia yang enak: Rendang, sambal goreng ati ampela, ayam goreng, gado-gado dan banyak lagi. Beliau memperbolehkan kami untuk makan sekenyangnya. Tap hari pula dia selalu menyapa kami dengan senyumnya yang hangat. Tidak saja bu Sofner, para staf lokal KBRI di Den Haag juga baik-baik.

Karena jarak dari Den Haag ke kota Brussels nggak sampai dua jam dengan kereta, bersama beberapa teman, saya pelesiran ke ibu kota Belgia itu mengunjungi Grand Place, alun-alun utama kota Brussels yang pernah dinobatkan sebagai alun-alun kota tercantik di Eropa, yang dikelilingi oleh beberapa landmark dengan kombinasi arsitektur Renaissance dan Barok yang indah seperti Town Hall (balai kota), Maison du Roi (King’s House) dan Guildhalls. Dari Grand Place, saya tinggal berjalan kaki ke salah satu tempat wajib kunjung di Brussels yaitu Manekken Pis, patung anak kecil lagi pipis.

Brussel juga dikenal sebagai ibukota kartunis di dunia. Inget tokoh kartun TINTIN? Asalnya dari Brussel dan ada museumnya loh.

Rasanya nggak afdol kalau ke Belgia tapi nggak nyobain wafflenya. Nggak jauh dari Grand Place dan Manekken Pis ada banyak kedai waffle. Saya menyempatkan diri beli belgian waffle yang kesohor itu. Makan Waffle fresh anget-anget dilumuri coklat sambil berjalan kaki menikmati segarnya udara dipenghujung musim semi sambil mengamati situs World Heritage UNESCO di jantung kota Brussels itu sesuatu banged. Nikmaaaaaat!

Total ada enam negara dan 17 Kota yang saya kunjungi dalam perjalanan perdana saya selama satu bulan ke Eropa saat menjadi duta budaya. Sebuah perjalanan yang bermodalkan uang perjalanan sebesar seribu dolar dan uang saku cuma USD 150 serta keyakinan bahwa ini baru merupakan langkah awal saya untuk menjelajah dunia. Saat itu, saya yakin akan mendapatkan kesempatan berikutnya untuk melihat dunia yang maha luas ini. Tapi maunya traveling gratis ha ha ha.

- to be continued -


You Might Also Like

10 komentar

  1. Oh berarti, maksud The Police Bilang, roxanne.. You don't have to put on the Red Light. You don't have to put that dress tonight.. Merujuk ke tempat di Belanda ini.

    BalasHapus
  2. Idfi main bola? Ikut kesebelasan? Kayak Adjat Sudradjat Persib gitu? Liat fotonya dong... #ternyataatlet ☺️☺️

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa beneran ikut kesebelasan kampus. kek ronaldo gitu deh hahahaha

      Hapus
  3. Ah the good ol days ! Seru ya ! More stories please

    BalasHapus
    Balasan
    1. wawaasan nya iyeu mah... more stories coming up. Diantos yaaaa.

      Hapus
  4. Seru bgt, terima kasih udah sharing pengalamannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ada manfaatnya ya. Makasih udah mampir :)

      Hapus
  5. Seru banget pengalaman masa muda Kak Idfi, pantesan rela melepas karir dan memilih kerjaan menjelajah dunia, excitementnya dapat dari sini kali ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa mungkin ini salah satu alasan saya ingin menjelajah dunia :)

      Hapus

Popular Posts

Follow by Email