Mengenal Budaya Peranakan Singapura Di Changi Airport

23.16


Selama ini saya selalu menganggap kalau semua bandara itu sama, mau semegah apapun tapi isinya sama; coffee shop, restoran, duty free, gerai barang-barang bermerek dan boarding lounge. Ketebak dan akhirnya jadi membosankan. Tapi setelah di akhir Januari lalu saya terbang dari Terminal 4 Changi Airport Singapura, pandangan saya pun berubah.

Sabtu, 27 Januari 2018

Setelah kunjungan singkat ke Negeri Singa, Saya meluncur ke Terminal 4. Penerbangan Air Asia dari/ke Singapura adanya di Terminal 4. Saya check-in empat jam lebih awal dari jadwal penerbangan, QZ 265 jam 19.45, secara mandiri di mesin yang tersedia. Dan setelah mencetak boarding pass, saya langsung menuju area mesin passport control. Nggak berapa lama, saya pun udah ada di area bagian dalam Terminal 4 Changi Airport. Dan, di sini lah saya tau kalau Terminal 4 Bandara Udara Internasional Changi punya spot menarik yang bisa bikin kita bakal nggak ngerasa bosen nunggu saatnya boarding sekaligus bisa untuk mengenal akar budaya Singapura terutama budaya peranakannya.

Sebelum saya ulas spot-nya apa aja, mungkin ada yang penasaran sebenernya apa sih yang dimaksud dengan peranakan dan siapa sih orang peranakan itu?

Katanya, ‘pernakan’ berasal dari kata Melayu yang berarti anak. Sementara menurut Wikipedia, “Orang Peranakan, Tionghoa Peranakan (atau hanya “Peranakan”, dan “Baba-Nyonya” di Malaysia) adalah istilah yang digunakan oleh para keturunan imigran Tionghoa yang sejak akhir abad ke-15 dan abad ke-16 telah berdomisili di kepulauan Nusantara (sekarang Indonesia), termasuk Malaya Britania (sekarang Malaysia Barat dan Singapura)”.

Meskipun ada komunitas peranakan dari berbagai etnis seperti Jawi Peranakan (keturunan Muslim India), Chitty Melaka (peranakan pedagang Hindu) hingga Eurasian (Peranakan Eropa) tapi mayoritas peranakan di Singapura adalah Peranakan Tiongkok (Baba-Nyonya). Dan, peranakan-peranakan itu sekarang menjadi bagian yang terintegrasi dalam kehidupan multi-budaya bangsa Singapura.

Peranakan Gallery


Peranakan Gallery ini ada di level 2. Gak jauh dari prayer room (mushalla). Buat sobat traveller yang ingin tau seperti apa asal muasal budaya peranakan di Singapura, mampir lah ke galeri satu ini. Peranakan Gallery ini merupakan hasil kolaborasi Peranakan Museum, National Heritage Board dan Changi Airport Singapore yang menampilkan berbagai objek dan menunjukan kuatnya pengaruh Tiongkok, India, Asia Tenggara dan Eropa terhadap objek-objek tersebut.

Biarpun mungil, galeri yang satu ini bisa ngasih cukup gambaran tentang sejarah peranakan di Singapura yang menginspirasi dan memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan kontemporer Singapura masa kini.

Di bagian paling depan ada miniatur rumah khas peranakan. Ada juga furniture; meja, cermin, kursi, hingga tempat tidur pernikahan antik bergaya peranakan klasik. Lengkap dengan foto-foto jadul.


Di bagian dalam tengah menunjukan bagaimana fashion peranakan. Deretan mannequin yang didandani dengan pakaian perempuan gaya peranakan. Mirip dengan sarung dan kebaya yang biasa dipakai perempuan Indonesia. Ada juga sarung kebaya seragam SIA (The Singapore Airlines), salah satu perusahaan penerbangan terbaik dunia asal Singapura, yang dirancang oleh perancang Prancis bernama Pierre Balman di tahun 1968 yang terinspirasi dari kebaya tradisional yang biasa dipakai oleh perempuan-perempuan di Singapura.


Di bagian paling belakang galeri ada deretan foto perempuan modern Singapura berpakaian kebaya dengan gaya kontemporer karya fotografer Singapura Suasti Lye’s yang diberi judul “The Modern Nyonya”.


Ada juga tayangan video pertunjukan tentang kisah fiksi pernikahan pernakan berjudul Emily of Emerald Hill karya Stella Kon dengan latar Singapura di tahun 1950-an lengkap dengan wawancara dan behind the scene-nya.


Kemudian, ada dua deret kaca dengan display porselen peranakan dengan warna-warna mencolok yang cantik. Porselen yang satu disebut ‘nyonyaware’. Nyonyaware ini dibuat untuk komunitas peranakan Tiongkok di Singapura, Malaka dan penang. Nyonyaware ini dipercaya dibuat di pabrik-pabrik di Jingdezhen Tiongkok dari abad ke-19 hingga pertengahan abad 20. Sementara display satu set porselen cantik satunya lagi berjudul ‘Spotted Nyonya’ milik warga Singapura bernama Hans Tan yang memenangkan Design of The Year di The President’s Design Award 2012.


Terakhir, di Peranakan Gallery ini ada satu meja dengan judul “Create Your Own ‘Peranakan’ Tiles”. Pengunjung bisa menyusun keramik peranakan warna-warni buatan Eropa dan Jepang. Gimmick yang Simple tapi lumayan menghibur.


Heritage Zone

Ini dia spot favorit saya di Bandara Changi Singapura. Lokasinya ada di dekat Gate 12 Terminal 4. Tempatnya eye-catchy banget. Dan, berasa di mini Chinatown. Delapan rumah tingkat tiga bergaya arsitektur chinese-european berdiri tegak. Bangunan-bangungan itu sekilas mirip tapi gak sama. Hal ini menunjukan evolusi gaya arsitektur di Singapura dari masa ke masa.


Di lantai dasar tiap bangunan ada toko, restoran hingga toilet umum. Tenant-tenant di lantai dasar itu adalah merek-merek legendaris dan terkenal di Singapura. Dari kanan-kiri; Toko Bee Cheng Hiang yang terkenal dengan dendengnya; Bengawan Solo yang menjual aneka jenis kue kering, kue basah, cookies hingga parsel kue. Bengawan Solo ini kata pegawainya dimiliki oleh orang Indonesia, loh. Pantesan banyak jajanan pasar tradisional Indonesia; Eu Yan Sang yang menjual obat-obatan herbal khas tiongkok sejak 1879; Old Chang Kee yang menjual aneka jenis jajanan gorengan  ala Singapura seperti sate baso, onde-onde, lumpia, pastel, dll; Restoran Curry Times; dan terakhir ada Restoran Heavenly Wang yang menyediakan dari masakan peranakan Tiongkok sampai roti prata khas India.


Buat saya yang hobi makan dan gak suka shopping, kecuali di etalase tokonya ada tulisan sale 70%, Heritage Zone ini bikin mager (males gerak) banget. Saya pun langung menclok jajan gorengan di kedai Old Chang Kee yang cathy dengan warna kuningnya. Kemudian, Icip-icip roti prata di Heavenly Wang. Beli jajanan pasar di Bengawan Solo. Duh, liat jajanan pasar seperti getuk, kue lapis, ongol-ongol, bika ambon, lapis, dll, bikin laper mata. Kalau di pasar tradisional harganya palingan seribu-dua ribu perak, tapi begitu dijualnya di airport, di Changi pula, harganya meroket jadi SGD 1.10-SGD 1.50 (1 SGD = IDR 10.000)/potong. Btw, egg tart-nya enak, loh.

Egg Tart di Bengawan Solo. Enyaaaaak!
Sebetulnya saya penasaran pengen icip-icip dendeng Bee Cheng Hiang yang bikin ngiler itu, tapi begitu tau ada si ‘buntut pendek’, saya langsung ngacir ke Curry Times karena ada tulisan “NO PORK NO LARD”.  Saya pun makan kari ayam sambil foto-foto di muralnya yang melukiskan kehidupan sehari-hari warga peranakan di Singapura. Muralnya keceh, loh.


Mural di Restoran Curry Times
Peranakan Love Story

Waktu saya ada di Heritage Zone, lagi asyik-asyiknyan jajan baso colok di Old Chang Kee, tiba-tiba saya denger suara musik menggema di Hall Heritage Zone. Sumbernya ada di atas Old Chang Kee dan tetangganya (Eu Yang Sang). Ternyata dinding lantai dua dan tiga kedua bangunan ini berubah 'hidup'. Saya pun langsung duduk di salah satu sofa yang bertebaran di kawasan ini.

Jendela kebuka, sisi bagian interior rumah tersingkap. Kita bisa liat jelas seperti apa dalam rumah dua keluarga bertetangga ini. Meja, kursi, dekorasi ala peranakan. Lengkap dengan penghuninya. Adegan demi adegan seputar keluarga, konflik dan cinta bergulir selama kurang lebih lima menit dengan happy ending - pesta pernikahan ala peranakan. Saya pikir ini live show. Tapi, setelah diperhatiin ternyata tembok bangunannya disulap jadi layar lebar. Kek nonton bioskop 3D dengan audio visual yang keceh banget. Teknologi digitalnya kereeeen. Adegan ini diputar berulang setiap 30 menit sekali.


Jadi, berdasarkan keterangan yang saya baca, show di Heritage Zone ini ngasih gambaran gimana kisah percintaan kaum peranakan. Perjodohan jadi sesuatu yang lumrah terjadi di kalangan mereka. Anak perempuan dijodohin dan nikah di usia menjelang 18 tahun. Secara tradisi, pesta pernikahan kaum peranakan bisa dirayakan selama 12 hari dengan berbagai ritual; tuker kado di antara keluarga kedua mempelai, doa kepada leluhur, pawai musik hingga mendekorasi kamar pengantin dengan simbol-simbol kesuburan dan keberuntungan. Oh iya, di penghujung show ‘peranakan love story’ ini ada penampakan burung phoenix warna-warni dan naga emas. Berdasarkan legenda dan budaya Tiongkok Naga dan Phoenix ini membawa berkah.

Yang dapet berkah bukan cuma keluarga dan kedua mempelai tapi juga Mak comblang. Mak comblang yang sukses nantinya akan dapet ang pow berisikan uang yang banyak sebagai tanda terimakasih. Waaaa, aku mau jadi dua-duanya ajah; nyomblangin dan dicomblangin. #ratapanjomblokere

Setelah beres nonton Show Peranakan Love Story, jajan dan makan, saya pun bergegas menuju area boarding Air Asia (QZ) 265 di Gate 21.

Sobat traveller, baru kali ini loh saya betah di bandara. Heritage Zone, Pernakan gallery dan Show Pernakan Love Story ini adalah oase yang menjadikan Changi Airport bukan sekedar bandar udara biasa. Mereka berhasil menjadikan bandara sebagai etalase untuk para traveller bisa mengenal akar budaya Singapura terutama budaya peranakannya. Jadi, pulang dari Singapura wawasan nambah, Perut kenyang, hati pun senang.

Dan, buat sobat traveler, ada kabar baik loh. Sekarang lagi ada campaign Changi Di Hati berhadiah tiket pulang pergi dari Indonesia ke Korea via Singapura. Woohoooo, asyeeeq!!! Kalau mau ikutan, buruan masuk ke link berikut: http://bit.ly/changidihati-ip dan siapa tau kamu lah pemenangnya. Ihiiiy!

See you soon!!!!

#ChangiDiHati
#ChangiDiHati

You Might Also Like

10 komentar

  1. Aku baca love story ini ikut terharu. Dan udah nggak sabar buat balik ke Singapore dan nyobain terminal 4 ini. Beberapa kali ke Singapore, cuma lewat terminal 4 aja. Dan dari tulisan kakak ini, aku jadi tau kalau komunitas peranakan di Singapore. Love it ! Mengenal budaya suatu negara emang seru banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nambah wawasan yak konsep terminal semacam terminal 4 Changi ini. Semoga langakah ini diikuti oleh bandara2 lain termasuk di Indonesia.

      Hapus
  2. Saya malah makin penasaran sama heritge zone di sana, soalnya dari fotombak kayaknya tempatnya asik banget gitu apalagi ada yang jualan cemilan. rasanya pengen nyobain juga nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaaaah kalo wisata kulinernya bikin mageeer di changi mah hehehehhe

      Hapus
  3. Heritage zone bikin ternganga, keren ya! Mural di Curry Times juga instagenic pisan. Fix ini mah musti balik lagi ke Changi via T4! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ajak yaaak kalo mo jalan-jalan ke Singapore ato kemanapun :)

      Hapus
  4. Mantap idfi... kapan ya saya di ajak jalan2 Sama idfi keliling dunia hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. inshaallaah ada kesempatan BJ 😊

      Hapus
  5. Seru... Kebayang serunya. So tempting la... Selama ini tdk kepikir klo Spore punya akar budaya yg kuat krn campur2 itu. Tnyt saya keliru.... mereka punya kebanggaan juga dgn "leluhur". Thx ya Idfi. Inspiring, as always.... Bersiap ke Sin ah 😄😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaa konsepnya changi gak cuma menjadikan terminal bandaranya sbg tempat singgah/transit aja tp juga penuh makna dan suvenirnya adl wawasan. Keren. Yuk atuh kalo mo ke SiN ajak2 aku udaaaa 😁

      Hapus

Popular Posts

Follow by Email