Shopping, Turis Indonesia (Banget). Part 2.

22.14


Turis Indonesia kesohor sebagai si tukang belanja. Kemanapun tujuannya pasti harus selalu ada shopping-nya bahkan saat toilet stop-pun. Tour-nya orang Indonesia tanpa belanja, bagaikan AADC (Ada Apa Dengan Cinta) tanpa Rangga dan Cinta.
Turis Indonesia kalau shopping, lama, molor waktunya, dan banyak belanjaannya. Daftar orang yang harus dibeliin oleh-oleh sepanjang naskah sinetron. Buat mama, papa, kakak, adik, suami, istri, anak, ponakan, sepupu om, tante,  tulang, inang, opung, temen sekantor, sampai ttm-an (temen tapi mesra) ada. Pokoknya kek mau buka lapak di ITC.
Tentunya, kaum perempuan lah yang paling semangat belanja mulai dari cewek-cewek ala ala JKT48, sampai ibu-ibu dengan sasakan jamsoy (jambul asoy), ber-sunglasses segede-gede gaban kek Ksatria Baja Hitam. Sementara yang cowok, sih, meskipun ada yang maniak belanja, kebanyakan pada mati gaya. “Cangkul” terus isi dompetnya dan jadi porter pribadi pasangannya. Nasib jadi lelaki (suami).
Sekarang mari kita kupas kira-kira gimana turis Indonesia saat shopping, barang apa yang  dicari dan kemana saja berburu belanjaan kalau jalan-jalan ke luar negeri.

Merchandise Batu Keras
Batu Keras, ya, bukan Batu Karas! Batu Karas mah salah satu pantai di Pangandaran, sementara Batu Keras atau Hard Rock adalah salah satu café kesohor di dunia. Kaos, kemeja, topi, pemantik, dan berbagai merchandise dari café yang pertama kali dibuka tanggal 14 Juni 1971 di London, Inggris ini adalah jadi salah satu barang buruan klasik turis Indonesia. Masih banyak turis yang suka nanya, “Ada Hard Rock, nggak?”. Tapi kan nggak semua kota yang dikunjungi ada Hard Rock Café atau Hard Rock Store, tapi tetep aja pesertanya maksa ke Hard Rock. Lah, Hard Rock nya aja kagak ada. Terus kalo udah dibiliang nggak ada, masih aja nanya, “ih, kok nggak ada Hard Rock sih?” Boh, meneketehe.

Tumbler Si Teteh Rambut Panjang
See, kek teteh-teteh berambut panjang kan?
Teteh adalah sebutan untuk kakak perempuan dalam bahasa Sunda. Maklum, saya orang Sunda. Nah, Si Teteh Rambut Panjang adalah interpretasi saya untuk logo berwarna hijau dari salah satu kedai kopi kesohor di dunia dengan image perempuan berambut panjang dan bermahkota. Sebenernya, logo kedai kopi ini menggambarkan putri duyung memegang dua ekornya. Sosok perempuan itu berwujud setengah manusia dan setengah ikan. Mitologi Yunani menyebut logo itu sebagai Siren. Siren dipercaya punya suara yang bagus banget yang digunakan untuk memikat para pelaut. Well, in this case mungkin Siren ini dijadikan logo untuk memikat para penggila kopi atau para penggila merchandise kedai kopi asal Seattle, Amerika Serikat, ini. Hayo tebak apa nama kedai kopi yang saya maksud itu? Yup, Starbucks!
            You know what, salah satu barang yang jadi trend souvenir dan sering dicari oleh turis dari Indonesia setiap kali traveling ke luar negeri adalah tumbler ~tempat minum~ Starbucks. Kepopuleran tumbler Starbucks ini udah mulai ngelibas pamornya oleh-oleh merchandise dari Hard Rock Cafe yang sempet jadi item wajib dibeli saat ke luar negeri.

Saya sendiri awalnya ngerasa si tumbler seharga U$10-$15 ~kadang beda negara beda harga~ ini adalah oleh-oleh paling nggak penting sedunia. Eeeee, sekarang malah kecipratan hobi beli tumbler.
Anyway, Kalau beli tumbler starbucks di beberapa negara tertentu contohnya Jepang dan Singapura, kita bisa dapet gratis minum, loh.
Sementara orang-orang Indonesia tergila-gila dengan starbucks, sebaliknya turis-turis mancanegara yang datang ke Indonesia malah demen sama Starling a.k.a “Starbucks keliling”. Itu loh abang-abang penjual kopi yang jualan kopi sachet murah keliling-keliling pake sepeda. Murah meriah cuy! Lima ribu perak udah dapet kopi plus dapet bonus bisa foto sama abang-abangnye plus dimintain foto sama orang-orang yang lewat. Berasa jadi selebritis dadakan. Itu kalo bulenya ganteng atau cantik, tapi kalau bulenya nggak kece, yaaaa, pasrah aja dianggap bule kere sama orang-orang yang lewat.

Uler Piton
Ihhhh! Bukan uler piton beneran. Lagian nggak ada kerjaan banget sih jalan-jalan buat nyari uler piton. Uler piton yang saya maksud adalah sebuah merek adi busana asal Prancis yang digilai banyak penggila fashion dunia termasuk orang-orang Indonesia. Dalam beberapa kali kesempatan nganter rombongan Indonesia terutama ke tempat-tempat perbelanjaan di Eropa, saya selalu liat butik merek satu ini dijejali “fans” beratnya. Saking banyaknya orang yang ngincer entah tas, dompet, atau iket pinggang, yang pasti antriannya customer-nya panjang atau ngelingker kek uler piton. Brand ternama asal Prancis ini bernama LOUIS VUITTON (baca: lui vitong) atau juga sering disingkat jadi LV.
Fyi, orang Sunda yang nggak melek fashion atau high-end brand dan nggak bisa bahasa Prancis, kek emak gue, bacanya LOIS PITON.

            Buat orang Indonesia berduit LV ini selalu jadi salah satu item belanjaan yang dicari bersama dengan beberapa brand high fashion lainnya seperti Prada, Gucci, Channel, hingga Hermes. Cuma sama merek terakhir saya agak trauma, bukan sama mereknya sih tapi sama orang yang kebetulan punya barang bermerek itu, karena pernah ngalamin kejadian ngebetein. Curcol dikit nggak apa-apa yak? Hehehe
            Jadi ceritanya di salah satu perjalanan ke Korea mimpin rombongan orang super tajir, saat lagi mau maen salju, saya sempet dimintain tolong untuk pegangin dua tas milik dua ibu-ibu. Awalnya satu tas saya pegang di tangan kiri, tas yang satunya lagi di tangan kanan. Tapi tiba-tiba salah satu ibu minta dipotoin. Ya, saya pindahin lah salah satu tas. Jadi, saya pegang dua tas di tangan kiri berdempetan karena tangan kanan saya pegang kamera. Baru aja beberapa detik pegang dua tas itu, salah satu ibu tiba-tiba menjerit aga-aga histeris gimana gitu.
“Ohhhhh … tidaaak!” Kek sinetron gitu lah.
“Jangan kamu jadiin satu gitu!”
“Kamu tau nggak ini tas apa?”
“Kamu tau nggak harga tas nya berapa?”
            Saya yang kaget dan nggak mudeng dengan apa yang terjadi cuma bisa planga-plongo apalagi begitu ngeliat si ibu ngelus-ngelus tas kesayangannya kek ngelus-ngelus pudel.     
“Pssstttt … tas si ibu itu mereknya Hermes. Harganya semilyar!”, bisik salah satu peserta.
            HAH?! Semilyar?! Ckckckckck. Bu, kalo nggak mau tasnya kegesek-gesek atau kegores, saya beliin tas Eiger paling cantik ya?! Cintailah Produk-produk Endonessaaaah! Lagian maen salju aja musti dibawa-bawa Hermesnya. Kenapa nggak bawa keresek aje sih?!
        Oh ya, satu lagi merek yang suka dicari orang Indoensia yaitu Longchamp (baca: LONG-SHOMP). Tapi sering kali kejadian saat di shopping mall di negara asalnya, Prancis, turis kita susah nemu gerai si Longchamp ini. Tiap kali mereka nanya ke pramuniaga atau security, sering dijawab dengan gelengan kepala atau wajah bingung dari orang yang ditanya. Soalnya, turis Indonesia saat bertanya nanyanya gini,
Where is LONGCEM?”
Yah, pantesan aja orang yang ditanya puyeng. Padahal gampang kok ngucapinnya. Agak  mirip sama ngucapin ONCOM. Hehehe.
Traveling ke Amerika dan Eropa terutama ke kota-kota yang jadi kiblatnya dunia mode seperti New York, Paris, Roma, atau Milan, jadi momentum berburu tas, sepatu, dompet, hingga kacamata branded. Barang-barang bermerek itu memang lebih murah jika belanja di negara asalnya.

Factory Outlet (FO)
Woodbury Common Premium Outlet di New York. See, kek komplek perumahan kan?
Kemanapun negaranya so pasti Fatory Outlet (FO) selalu ada dalam program perjalanannya orang Indonesia. FO di luar negeri beda dengan FO di kota Bandung. FO di Bandung lebih berkonsep toko pakaian yang menjual sisa barang kualitas ekspor dari pabrik, yang dijual dengan harga miring alias murah. Udah gitu, FO-nya tersebar di beberapa area di dalam pusat kota, makanya, bikin macet. Sementara FO di luar negeri konsepnya ada dua jenis. Ada yang seperti shopping mall beberapa lantai atau, pada umumnya, seperti komplek perumahan yang terkonsentrasi di satu area dan lokasinya selalu di pinggiran kota. FO dengan konsep seperti perumahan ini memudahkan kita untuk berjalan kaki keluar masuk toko dan nggak usah takut bakal ada macet karena semua kendaraan harus diparkir di satu area khusus. Barang-barang bermerek dari mulai baju, tas, kacamata, sampai sepatu olahraga pun ada. Pokonya lengkap, deh. Belum lagi ada diskon gede-gedean dari 20% hingga 70%. Sorga belanja banget!!

Koper
Kaum perempuan emang hebat! Nggak cuma habis nikah bisa beranak, habis belanja pun bisa “beranak”. Kopernya yang beranak. Saat berangkat dari Indonesia cuma bawa satu koper aja, tapi kembali ke Indopnesia bisa bawa satu atau dua koper tambahan. Isinya, ya apalagi kalau bukan barang belanjaan dan seabrek suvenir entah makanan atau perak-pernik buat seerte! Jadi, sebelum beli ini itu, mereka terlebih dulu belanja koper. Terutama pas belanja ke FO. Biar kalau nanti belanja ini itu mereka nggak perlu repot jinjing-jinjing tas belanjaan. Cukup dimasukin koper dan tinggal geret-geret atau dorong-dorong koper biar lebih praktis. Dan, ada satu merek koper idolanya turis Indonesia terutama buat yang kelas menengah ke atas yaitu Samsonite. Kemanapun tujuannya, Samsonite incerannya. Sementara buat yang duitnya agak ngepas, apapun mereknya yang penting murah dan bisa nampung belanjaannya.

Jersey
Jersey atau kaos bola dari berbagai klub sepakbola dunia juga digilai orang Indonesia. Nggak bisa dipungkiri sepakbola emang olahraga paling popular di dunia. Dan kalau tripnya ke kota-kota di dunia dengan tradisi dan klub sepakbola yang mendunia so pasti kunjungan ke stadion sepakbola jadi tujuannya. Tapi berdasarkan pengalaman berkunjung ke beberapa stadion sepakbola seperti Giuseppe Meazza (San Siro) di kota Milan (Italia), Camp Nou di Barcelona (Spanyol),  Stamford Bridge di London (Inggris), dan lain-lain, di stadionnya mah bentar banget bahkan terkadang stadionnya lagi nggak dibuka buat umum. Tapi buat turis Indonesia, nggak apa-apa stadionnya tutup yang penting toko merchandise-nya buka. Kalo sampe stadionnya nggak buka dan toko merchandisenya juga tutup, bisa-bisa didemo kitaaaaah!
Kaum lelaki penggemar bola pastinya tau apa yang mereka cari tapi yang heboh belanja ya tetep kaum perempuan. Giliran ditanya nama pemain, klub sepakbola dan segala yang berkaitan dengan sepakbola palingan dijawab dengan geleng kepala. Wong kadang mereka aja nggak tau tempat yang lagi dikunjungi namanya apa. 
“Nggak tau! Yang penting SHOPPING!!” begitulah jawaban mereka.

Suvenir
Ciri khas orang Indonesia dalam hal berburu suvenir atau oleh-oleh seperti gantungan kunci, kaos, sweater, tempelan kulkas, piring hias, snow ball dan lain sebagainya pasti maunya beli di tempat yang murah. Terbukti dengan pertanyaan standar yang selalu muncul setiap kali saya pergi bawa grup, “Mas, Idfi kalau beli suvenir murah dimana?”
Prinsipnya semakin murah semakin bagus karena semakin banyak yang bisa dibeli. Supaya saat pulang ke Indonesia semua orang yang ada di daftar absen bisa kebagian oleh-oleh.
Dan, orang Indonesisa sepertinya punya prinsipThe More We Give The More We Get’ Semakin banyak kita memberi semakin banyak pula kita dapat rejeki. Bagus sih, tapi suka jadi boomerang buat saya. Makin banyak koper makin pusing ngaturnya di bagasi bus. Makin berat kopernya makin pegel badan saya. Karena sering kali, biar cepet dan bisa hemat waktu, saya harus bantuin sopir bus buat keluar masukin koper dari-ke bagasi bus. Well, that’s occupational hazard alias resiko profesi.

Kalau pesertanya cewek-cewek muda single atau ibu-ibu yang kebetulan pada nggak bawa pasangannya biasanya TL nya yang jadi inceran buat dimintain bantuan bawa jinjingan. Makanya kalau pas waktu belanja saya lebih milih kabur atau ngumpet di pojokan kedai kopi.
Kenapa ngumpet? Karena kalau saya bantuin jinjingin belanjaan satu orang maka ada kemungkinan saya akan dicap pilih kasih atau terlalu menginstimewakan seseorang oleh peserta yang lain. Makanya saya lebih milih kabur. Sementara prinsip jadi TL itu adalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, eh, itu mah Pancasila! Maksud saya, TL itu harus bersikap adil kepada seluruh peserta tour-nya. Kecuali, ada peserta yang memang sangat sepuh dan kebetulan solo traveler alias nggak didampingi anggota keluarganya. Peserta lain pun pasti memakluminya dan malah biasanya mereka akan minta saya untuk bantuin peserta sepuh tersebut.
Hanya turis dari Tiongkok yang mungkin bisa menyaingi dan bahkan ngelibas kegarangan hasrat shopping turis Indonesia. Di berbagai tempat wisata dan pusat perbelanjaan dimanapun, turis Tiongkok pasti paling banyak di antrian, paling banyak bawa jinjingan, paling berisik saat belanja~tempat seekslusif apapun  kalau udah kedatengan turis dari Tiongkok pasti bising. Selain demen ngoceh mereka juga hobi banget teriak-teriak, dan emang paling ajaib kelakuannya.
Saya sempet ngeliat sendiri kebrutalan turis Tiongkok bahkan di tempat belanja paling mewah sekalipun. Jadi, sekitar tahun 2014 di salah satu perjalanan di Paris, ada program shopping di department store mewah dan juga shopping icon kota Paris yang terletak di Boulevard Haussman yaitu Galleries Lafayette. Saya ngeliat di depan mata kepala sendiri mereka berantem sampe jambak-jambakan, ada pula yang ngeludah ke lantai dan yang paling bikin mata melotot adalah waktu saya mergokin engkoh-engkoh dengan cueknya menggoreskan koin ke dinding. Bunyinya bikin ngilu, KREK KREK. Abis gitu, si engkoh celingak-celinguk macem lagi ngapalin arah.
BAH! Dia pikir di hutan apah?! Minta ditoyor setum keknya!
Alhamdulillah, turis Indonesia, seenggaknya yang pergi bareng saya, nggak pernah ada yang seperti begitu. Paling cuma jongkok atau selonjoran aja di depan butik. Mungkin mereka lelah!


Teaser: Eits, masih berlanjut loh topic Turis Indonesia (Banget)-nya. Saya juga nanti mau berbagi cerita tentang pengalaman dapet jalan-jalan gratis dari hobi ngeblog yang baru saya tekuni (kembali) sebulan terakhir ini. So, nantikan kelanjutan celotehan traveler modis (modal diskon modal gratis). See yah!

You Might Also Like

65 komentar

  1. Wahhh.. ini pekerjaan seru dan impian banget mas idfi. Dari cerita ini, berasa banget asiknya jalan-jalan sambil nemenin rombongan. Selamat ngblog mas idfi, semoga konsisten yaaa... ditunggu cerita-cerita selanjutnya.

    www.gayaransel.com :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi Husna, makasih ya udah mampir dan kasih komen. kerjaan jadi TL ini emang asyik tapi aselinya bisa bikin migren. untung aku nggak punya migren. loh!?
      tunggu cerita-cerita ebrikutnya yak.

      Hapus
  2. Ahahaha mesem2 baca artikel ini. Iya sih bener, kalo kmana2 gak shopping, meski cuma printilan gak penting, gak lengkap kayaknya. Ehh aku suka bgt sama tumbler krn doyan minum kali yaaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo nggak suka shopping bukan turis Indonesia namanya hihihihi. makasih ya udah mampir dan berkomen :)

      Hapus
  3. Hahahahaha... barang titipan juga tuh kalo kemana mana.

    BalasHapus
  4. Lucuukk banget soh cerita si tas semilyar ituuu..ah kalo aku mah levelnya belanja cukup di dept store atau FO lah. Gak sampe oncom2 gitu wakakak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo aku mah cukup belanja di ITC kuningan sama mall ambasador ajah kakakkkkk :)

      Hapus
  5. Bener sih ya, sampe pas di Vietnam, ada lho penjual yg bs bahasa Indonesia segala.

    Btw, kl km disuruh bawa tentengan belanjaannya, dulu aku pas ikut tur, krn bawa kamera, makanya dimintain tolong utk fotoin beberapa kali huehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. untung lo bawa kamera, coba kalo lo ga bawa apa-apa, pasti dibajak buat nentengin barang belanjaan hahaha makasih kak timooh udah mampir dan komen :)

      Hapus
  6. Seru ceritanya, senang ya bisa jalan2 keberbagai belahan dunia lain, bisa mengenal budaya2 asing.
    Slaam kenal ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya alhamdulillah :) makasih udah mampir dan komen ya. Siti pun bisa kok jalan-jalan ke beragai belahan dunia dan mengenal budaya asing. oh ya salam kenal juga ya.

      Hapus
  7. Seru ceritanya, senang ya bisa jalan2 keberbagai belahan dunia lain, bisa mengenal budaya2 asing.
    Slaam kenal ya mas

    BalasHapus
  8. Ngebayangin tas satu milyar tuh seperti apa ya. Hihiii
    Asyik bisa jalan2 untuk lihat banyak hal menarik ya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan dibayangin bisa bikin stres hihihi #tassemilyar

      Hapus
  9. Hahhaha kocak... temen saya seorang tour leader bilang... local guide di eropa seneng kalo tamunya emak emak dari Indonesia.. karena doyan belanja..

    BalasHapus
  10. iya lah mereka seneng soalnya mereka jadi nggak usah banyak ngoceh ... hihihi
    makasih udah mampir dan komen ya mba Yayat. Seneng ditengokin best blogger of the year :)

    BalasHapus
  11. Ah.Benar banget ini mah. Umroh juga begitu jamaah indonesia dikenal pelit tapi demen belanja. Bawaan sekoper masih kurang. Sampai rumah badan pegel gara-gara angkut koper :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha kebayang kopernua isinya sejembreng ampe beli teko sama cangkir segala kalo rombongan umroh+haji mah.
      Anyway, kalo suka dgn cerita2 di blog aku, boleh bantu share di socmednya ya mba ;)
      Makasih udah mampir dan komen ya ;)

      Wassalam

      Hapus
  12. Aku sukakkk tulisan kamu...br baca sih...tapi seru dung...teruskan!😘😘😘

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasihhh finaaaah udah baca dan komen. Boleh atuh bantu share di socmed mu. Sugan yang lain juga dapat wawasan baru ttf dunia jalan-jalan dan seluk beluknya ;)

      Hapus
  13. Salam kenal Idfi, hahaha bener banget ceritamu sama seperti yang kualami pas jalan sendiri krn sy juga suka nyari tumbler sm kaos batu keras. Enaknya ya pekerjaanmu bisa keliling dunia dan dapat duit sekaligus. Impianku dulu yang tak pernah jadi nyata 😅😅 tolong follow me ya di http://endearmentmoment.blogspot.co.id/?m=0
    Thanks. Keep traveling😊😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai salam kenal green green grass,

      Waah ternyata dirimu pemburu batu keras dan si teteh panjang ;)

      Meluncuuuur ke blog mu segeraaa

      Btw, kalo ceritaku menarik ubtuk dibaca orang lain, boleh bantu share ya kakakkkk ;)

      Makasih

      Hapus
  14. Balasan
    1. Siaaaaaap.
      Eh, what do u think of my writings? Kalo mwnurutmu menarik, bantu share di sosmed mu duonks mba vi ;)

      Hapus
  15. Ngakak gue bacanya.. teruskaaan Idfiii.. teruskan jalan-jalan dan ngeblognya :)

    BalasHapus
  16. Hihihi makasih udah mampir dan komen. Boleh kok dijadiin script buat siaran hahahhaha

    If u think people would be entertained and inspired by my writings, boleh bantu share atuh di socmed mu hihihuhu

    Thanks ya Ines.

    BalasHapus
  17. Seru bacanya bikin ketawa sendiri.. thats our job and we love it.. right??
    Good job kang Idung..

    Waiting for another story from u

    Emman here

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emmmman, waaa seneng banget lo mampir dan komen. So right! I love it and enjoy it as much as you do. Berkat jadi TL gue jadi punya banyak cerita hehehe. Nantikan cerita-cerita berikutnya yaaaak. See yaaaah.

      Hapus
  18. ahahaha yang terakhir bikin ngakak asli, apalagi pas saya baca kata-kata "KREK KREK"-nya.. hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya cuma bisa geleng2 kepala ... pengennya sih noyor di engkoh tapo atuttt kualaaaaat hahahha

      Hapus
  19. Orang Indonesia kalau jalan-jalan suka dimintain oleh-oleh plus sekarang udah banyak buka jasa titip hehehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu diaaaa ... buka PO belanjaan or oleh2. Endonesyah banget hahhahaha

      Hapus
  20. Temenku ada tuh kolektor merchandise dan tumblr Starbucks. Tapi jadi kalo mau kasih oleh-oleh ke dia enak, tinggal nyari Starbucks aja.

    Tapi aku sendiri sebenernya kurang suka belanja oleh-oleh pas liburan. Antara pelit sama hemat beda tipis ya, kak. Hahahaha. Maksudnya aku lebih suka waktunya dipakai untuk menikmati destinasi yang jarang didatangi gitu lho. Shopping kan bisa di Jakarta. Lagian apa bedanya coba starbucks si sana ama di sini. Taunya sama-sama made in China hihihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga gak demen belanja. Ngabisin waktu dan jd kurang 'dalem' mengenal destinasi yg dituju. Mending wisata kuliner aku mah hehehe

      Hapus
  21. Tumbler sturbuck tuh bener banget, gwa pernah sampe misahin uang dulaun buat beli benda tsb, wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi udah berapa banyak koleksi tumbler nya?

      Hapus
  22. akh kalau halan2 jauh mikir oleh2 yang kadang nggak penting buat aku kok ya sayang waktu ya. Tapi namanya juga penanda hehe...ntar dibilang hoax lagi nggak ada bukti. Eh. Senang ya kak dengan pekerjaan ini. Saya juga akrab ma starbuck abang abang. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. akrab sama sturback abang2? abang starling? #starbackkeliling haha

      Hapus
  23. No. 1 aku banget nih, kalau jalan-jalan, beli tumbler Starbucks :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah kau termasuk si penggemar teteh berambut panjaaaaang ternyataaaah :)

      Hapus
  24. Kak Idfi selalu bikin ngakak ya ahhaha btw kalau beli tumbler sbux di sini juga free minumannya lho kak! Aku koleksi juga hahaha walaupun baru punya 3 seri sih wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. tiga juga udah cukup laaaah ... ga perlu nambaaah ... maaaaahaaaal hahah

      Hapus
  25. Ha...ha.... Sasakan jamsoy

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang suka penasaran, kek gimana tampangnye kalo ga pake sasakan jamsoy!?

      Hapus
  26. HAHHAHAHAHHAHHAHAHHAHAHAHAHAHAAHAH ngakak abissss

    BalasHapus
    Balasan
    1. kakakkkk jaim dikit nafaaah ketawanya hihihi

      Hapus
  27. Hahaha ngikik pas bahas teteh berambut panjang.

    Kang Idfi udah punya berapa banyak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. seharusnya punya banyak cuma akhirnya dikasihin ke orang-orang ajah. skrnf tinggal nyisa empat biji ajah.

      Hapus
    2. seharusnya punya banyak cuma akhirnya dikasihin ke orang-orang ajah. skrnf tinggal nyisa empat biji ajah.

      Hapus
  28. Hahahhaaa baca sambil mesemm mesem gitu hahaha duhh gimana ya kak abisnya orang Indonesia ga ga pergi suka demen banget minta oleh-oleh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi kadang suka semena-mena minta oleh2nya haha

      Hapus
  29. Wkwkwkwk baca postingan kak Idfi selalu sukses bikin aku ngakak! Horang Endonesah emang gitu ya kak kalau jalan-jalan. Pelajaran banget buat aku kalau jalan-jalan: Kasihanilah TL karena mereka juga manusia, jadi jangan suruh gotong-gotong koper atau belanjaan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah da aku mah apa atuh :) Jd TL enak bgt tp giliran ditodong oleh2 jadi eneq lol

      Hapus
  30. Aku jadi ingat waktu ke Tajur, padha borong koper. Alhasil bus jadi sesak dan bikin susah gerak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. mumpung ke Tajur yaak jadi borong koper :)

      Hapus
  31. Tumbler birunya Starbucks cakep :D
    Tapi ada lho temanku ke KL pertama kali dia gak beli oleh2 sama sekali dgn dalih gak ada budget :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin emang ga ada budget buat oleh2. Aku juga pertama kali ngetrip sama sekalo ga punua budget buat oleh2 bahkan buat makan aja kurang. :)

      Hapus
  32. Selalu seru baca tulisannya. Kadang aku suka aneh juga ama temen2ku yg ke luar negeri balik bawaan seabreg, tapi pas udahan mewek. Katanya nyesel ngapain beli barang ini dan itu, kan ga kepake. Gubraak

    BalasHapus
    Balasan
    1. laper mata dan nepsong / impulsip doang jadinya ya gitu borong yg gak jelas :)

      Hapus
  33. Yg disebut diatas kayanya barang branded high class ya :O
    Ga salah sih utk beli oleh2 sebagai kenang2an ikonik perjalanan
    Tp klo sampe maniak bgt kayanya agak gimana gitu ya...apa kabar dg bagasi
    Hehehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitu bagasi over weight, ngamuk2/ngomel2 gak mau bayar. Terus nitipin barangnye ke TL nya. #pengenjitak

      Hapus
    2. begitu bagasi over weight, ngamuk2/ngomel2 gak mau bayar. Terus nitipin barangnye ke TL nya. #pengenjitak

      Hapus
  34. Itu kalau sudah ke tempat belanja, TL bisa melipir aja n nunggu di meeting point gitu ya kayak di Indonesia kan kalau dah disuatu tempat riweuh rame ribet paling tar 1 jam lagi ditungguin ya disini. Sama kyk gt ga apa calling2 peserta mas jadinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. selalu buat janji untuk ketemu di meeting point yg udah ditentuin di jam yg udah ditentuin pula. Kalo ga bgitu, TL dan pesertanya tar keleyengan saling nyari :)

      Hapus

Popular Posts

Follow by Email