Profesi Impian(ku)

07.10


T

our Leader (selanjutnya disingkat jadi TL) adalah sebuah profesi yang cool banget! Profesi ini bisa bikin kita jalan-jalan ke berbagai tempat impian jutaan umat manusia.

Buat yang suka sepakbola, stadion-stadion sepakbola tempat merumputnya klub-klub sepakbola legendaris dunia seperti San Siro di Milan, Italia, Camp Nou di Barcelona, Spanyol, atau Old Trafford di Manchaster, Inggris, bisa banget kalian kunjungi. Tempat-tempat eksotis dengan pantai yang indah seperti Bali atau Maldives, atau icon-icon wisata dunia seperti Menara Eiffel di Paris, Patung Libety di New York, Disneyland di Tokyo, Paris dan berbagai tempat, kota, negara di dunia bisa kalian kunjungi loh melalui pekerjaan ini. Seru banget kan?

So, Kalau di kasih kesempatan keliling dunia untuk menginjakkan kaki di tempat-tempat impianmu dan nggak usah bayar alias gratis bahkan ngehasilin duit juga, loh, mau nggak? *Racun banget ya gue*

            Ngapain sih kerjaan TL itu? Anyway, pada dasarnya, TL itu kerjanya jadi pendamping sekaligus pemimpin rombongan jalan-jalan.

Terus kalau mau jadi TL gimana caranya?

Idealnya; Sekolah atau kuliah jurusan tours and travel management, WAJIB mantepin, minimal, bahasa Inggris, lalu kerja di tours and travel agency, terus ‘colek’ tour manager di travel agency untuk kasih kesempatan dampingin rombongan turis sebagai pimpinan rombongan. Buktikan kepada mereka kalau kita pantas dapat kesempatan jadi TL.

Tapi, pada prakteknya, banyak loh orang dari berbagai macam background yang nyemplung di profesi ini. Ada yang tadinya akuntan, ada yang tadinya wirausahawan, bahkan ada yang punya titel dokter pun ‘nyemplung’ ke profesi ini. Kombinasi kerja keras~gigih bergerilya mencipakan dan menghampiri kesempatan, dengan networking~rajin bersilaturahmi dengan jaringan di tours and travel agency dan tentunya bisa ngebuktiin kalau mereka emang pantas jadi pemimpin adalah kuncinya.

And, First thing first, modal utama untuk pekerjaan ini adalah punya paspor. Karena jadi TL pasti akan sering bepergian ke luar negeri. Dan, punya paspor berarti tinggal selangkah lagi untuk mengeksplor dunia. Ayooooo, bagi yang belum punya passor, segera bikin paspor donks. Percaya deh, ketika paspor udah ditangan, adaaaaa aja kesempatan untuk melihat dunia. Syukur-syukur bisa jadi TL seperti saya hehe.

Jadi TL enak, loh. Apa yang peserta tour (turis) dapetin, ya, TL juga dapetin. Kalau pesertanya nginep di hotel berbintang lima, TL-nya juga nginep di hotel yang sama. Kalau pesertanya makan steak mahal, maka TL-nya pun makan steak yang sama. kalau pesertanya ke Menara Eiffel, TL nya juga pasti ke Menara Eiffel. Kalau pesertanya maen ski, TL nya juga dapet jatah maen ski. Gimana, sounds good, khan?!

TL selain sebagai orang yang dipekerjakan oleh travel agency untuk ngebantu kelancaran perjalanan rombongan, juga adalah teman seperjalanan para peserta. Pun demikian sebaliknya, para peserta adalah teman seperjalanan sang TL. TL hadir untuk membuat perjalanan terorganisir. Dan, kalau nggak ada rombongan traveling ke berbagai tempat, kesian TL-nya, dong, bengong nggak ada kerjaan dan nggak punya duit J

Anyway, sama nggak sih TL dengan tour guide (TG)? Sekilas emang mirip, sih, apalagi keduanya gampang dikenali suka berjalan sambil megang tiang berbendera warna-warni dengan logo travel agency dan dikutin serombongan turis yang ngintilin persis kayak pasukan bebek. Kemanapun perginya TG atau TL, pasti ‘ekornya’ panjang.

Kalau ada peserta yang ketinggalan, ya, TG/TL yang kalang kabut nyariin, sementara tamunya mungkin lagi asik foto-foto, atau lagi ngerayu pedagang biar dikasih harga murah dan kalau pedagangnya ganteng mungkin lagi dirayu biar bisa dibawa sekalian, atau lagi sesegukan nangis karena berasa jadi orang paling malang ditinggal sama rombongan. Dan begitu ketemu, either, mencak-mencak manja atau meluk TG/TL-nya. But, anyway, kedua profesi ini sama-sama punya tujuan utama yang kurang lebih sama yaitu menjadikan trip yang dipimpinnya aman, terorganisir, dan berkesan buat semua orang.

Tau nggak, satu hal yang bikin jadi TG/TL ini berat? Nggak bisa kentut sembarangan! Harus pinter ngatur kentut. Nggak boleh bunyi atau pake bau. Kalau nggak, bakal digebuk berjamaah ampe benjol sama rombongannya. Berat banget, kan?

Terus apa, dong, perbedaan antara TL dan TG? Okay, perbedaan antara keduanya, secara singkat, kurang lebih begini: Tour berarti jalan-jalan, leader artinya pemimpin. Jadi, tour leader ini adalah pemimpin di saat jalan-jalan. Di luar negeri profesi ini juga sering disebut dengan istilah tour manager, tour director, dll. TL menjadi semacam ‘kepanjangan’ travel agency dalam mengeksekusi program perjalanan dan bertanggung jawab memimpin rombongan turis dengan segala kebutuhannya  selama perjalanan, mulai dari berangkat sampai kembali lagi ke tempat/kota/negara asal. Sementara, tour guide lebih bertanggung jawab menjelaskan atau bercerita berkaitan dengan objek yang dikunjungi.

Orang awam mungkin ngeliat kerjaan jadi TL ini enak banget. Jalan-jalan santai, terbang kesana kemari, dibayar pula, bener nggak? Tapi percaya deh, sebenernya kerjaan sebagai TL ini berat loh. Tanggung jawabnya besar. Keselamatan dan kelancaran banyak orang saat perjalanan ada di tangan kami para TL. Belum lagi haru bangun lebih pagi dan tidur lebih malam dibanding peserta tour. Mungkin, setelah baca cerita saya, bakal banyak yang nggak mau jadi TL.



Sebelum Keberangkatan

Sebelum berangkat tour, seorang TL harus check dokumen perjalanan seluruh peserta seperti paspor, visa, tiket pesawat, dll. Terus fotokopi semua dokumen sebagai back-up supaya kalau di perjalanan ada dokumen peserta yang hilang, kita bisa bantu pengurusan dengan fotokopian tersebut. Kita harus cocokan nama yang tertera di paspor sama dengan yang tertera di visa dan tiket pesawat. Kalau berbeda dan peserta nggak bisa terbang, yang kena damprat ya TL nya.

TL harus mempelajari itinerary atau program perjalanan. TL juga biasanya akan diminta oleh travel agent untuk menghubungi para peserta tour melalui telpon atau SMS untuk berkenalan sekalian ngasih informasi singkat seputar perjalanan. Bahkan seringkali TL harus ikut meeting bersama dengan klien dan membantu briefing bersama para peserta tour.



Di Hari Keberangkatan

Di hari keberangkatan, saat di bandara, TL bantu mendata bagasi peserta. Tapi sebelumnya harus sambut kedatangan para peserta dengan senyum terkece yang bisa bikin mereka klepek-klepek dan ngerasa nyaman sama kita pada pandangan pertama.

Kalau kitanya tegang, nggak senyum, atau lempeng saat pertama kali ketemu peserta, mereka nantinya berpikir kalau TL-nya mungkin nggak berpengalaman lah, nggak ramah lah, jutek lah atau "hmmmm .... ini, TL nya lagi 'dapet' ya?" 

Kemudian, jika pengaturan tempat duduk di pesawat masih ‘acak-acakan’ usahakan susun sehingga peserta bisa duduk berdekatan dengan keluarga, kerabat atau temannya. Lalu bagikan boarding pass dan berikan sedikit pengarahan atau info penting yang harus mereka ketahui berkaitan dengan perjalanan. Terus bantu arahkan mereka ke konter imigrasi untuk passport control dan arahkan ke gate atau pintu keberangkatan pesawat.

Saatnya masuk pesawat, TL harus memastikan semua peserta udah masuk ke dalam pesawat. Temui mereka di dalam pesawat sesaat sebelum terbang untuk sekedar memberikan senyuman manis dan ucapan selamat menikmati penerbangan. Saya sih selalu bilang gini sama mereka, “Kalau Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu kangen sama saya, saya duduk agak di depan ya, sweet dream, enjoy the flight!” Ada yang mungkin berpikir kalau saya lebay tapi nggak sedikit juga yang menanggapinya dengan tersenyum sambil bilang,”Ahhhh ... TL-nya so sweet banget sih!” Ihhhh, gimana nggak leleh hati mereka. TL nya emang suka ngemil gula. Semutttt kaliiii J

Bagi saya, rombongan tour yang saya pimpin itu akan jadi mitra sekaligus jadi teman bahkan jadi keluarga selama perjalanan yang bisa berminggu-minggu lamanya. So, saya perlakukan mereka dengan penuh perhatian, kasih sayang dan cinta. *eaaaaaaaaa*



Saat Tour

Tugas TL yang sesungguhnya dimulai saat tiba di kota/negara tujuan. TL harus mampu memimpin dan mengorganisir perjalan supaya menjadi perjalanan yang berkesan. Kelancaran urusan check-in hotel, pengaturan meja kursi saat makan di restoran, hingga kunjungan ke objek wisata ada di tangan seorang TL. Ada perjalanan yang lancar-lancar aja tapi nggak sedikit yang harus ngadepin kendala. Adaaaaa aja cobaannya. Belum lagi kalau rombongan yang berangkat jumlahnya ratusan orang bahkan ribuan orang. Meeting koordinasinya bisa sampai subuh, bisa tidur tiga jam aja udah syukur banget. Cuapeeeek!

Nggak bisa dipungkiri kalau perjalanan rombongan Indonesia tekadang sangat ambisius. Mungkin karena hari liburnya terbatas jadinya saat liburan maunya sekalian ngunjungin banyak tempat di banyak kota atau kalau tour-nya ke Eropa ya sekalian aja pergi ke banyak negara. Yang berarti seringkali harus pindah hotel, naik turun bus, geret-geret bagasi, dan lain sebagainya. Perjalanan yang seharusnya bisa bikin fresh malah jadi melelahkan secara fisik dan mental.

Intrik dan konflik antar anggota rombongan terkadang muncul. Bisa, tuh, antar perserta jambak-jambakan, cakar-cakaran, pelotot-pelototan, perang kata-kata bahkan perang dingin. Yang pusing kan TL nya. Kalau udah begini kontrol ada di tangan TL.TL harus bisa jadi penengah, harus bisa berdiplomasi dan harus adil dalam ngambil keputusan.

Belum lagi harus ngadepin berbagai persoalan yang bisa muncul saat perjalanan, seperti, makanan yang nggak sesuai dengan selera peserta, perjalanan darat yang jauh dan membosankan, fasilitas hotel yang nggak sesuai dengan yang dijanjiin, sopir bus yang kadang madut (mata duitan) dan nggak kooperatif, atau ada force majeur atau kejadian yang diluar kuasa manusia seperti kecelakaan yang mengakibatkan kemacetan luar biasa, badai, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kemampuan TL untuk bisa berkomunikasi, berkoordinasi dan sekaligus sifat sabar akan sangat membantu.

TL juga harus bersemangat, antusias, kreatif dan bisa jadi penghibur, loh. Sering banget tuh saya harus menempuh perjalanan darat yang amat panjang, sampai belasan jam, dengan bus. Biar kita, ya TL dan pesertanya, nggak mati gaya, TL-nya harus berinisiatif ngehibur. Coba cari apa kelebihan kita. Yang bisa sulap, ya maen sulap. Yang bisa ngebanyol, ya, jadilah stand up comedian. Yang bisa mijit, ya, buka lapak pijit selama perjalanan asal kuat ajah mijitin puluhan orang. yang jago sejarah, dongengin aja pesertanya dengan cerita sejarah. Tapi, pengalaman saya, orang Indonesia mah kalau diceritain sejarah berasa dininabobin, tau-tau udah merem semua.  Anyway, Do whatever it takes to make the trip fun and memorable.

Pernah ada seorang peserta yang minta saya bawa gitar supaya bisa mainin gitar sepanjang perjalanan, tapi, saya nggak bisa maen gitar. Satu-satunya instrumen musik yang bisa saya mainin cuma angklung. Tapi kan nggak mungkin bawa angklung sebiji doang dan mainin satu nada ajah.

But wait! I may not play any musical instruments but I have my voice. My voice is my instrument.

Ya, saya emang nggak bisa maen alat musik tapi, selain punya kelebihan hidung~ukuran idung saya XXL, saya punya suara. Suara saya nggak kalah, loh, sama Afghan.*eaaaaa*.

Saya suka nyanyi. Sering kali saat bawa tour, saya nyanyi acapella (tanpa iringan musik) dan pesertanya boleh request lagu. Atau, bikin quiz dan games, seperti; tebak lagu, tebak tokoh, tebak film, lomba ketawa, lomba nyanyi “Potong Bebek Angsa” tapi hurup vokalnya diganti hurup O semua sampe mulut peserta yang dikerjain monyong-monyong. Pokonya apa pun saya coba untuk bikin suasana hidup dan menyenangkan.

Beruntung saya punya latar belakang sebagai seorang penyiar radio dan MC. Jadi, udah nggak canggung cuap-cuap di mikrofon depan orang banyak. Bagi saya, bus udah seperti panggung hiburan. Saya jadi penghiburnya, peserta tour jadi penontonnya, dan di penghujung acara (tour) saya dapet amplopnya. Cihuyyyyy.

Satu lagi yang penting, TL juga harus memahami itinerary atau program perjalanan. Sering kali seorang TL ditantang untuk bawa rombongan ke tempat yang belum dia kunjungi, berarti, ya, mau nggak mau harus belajar. Meskipun di destinasi atau tujuan akan ada seorang TG (Tour Guide! Bukan Tante Girang, yaaaa!) yang mendampingi tapi tetap seorang TL harus membekali dirinya pengetahuan sejarah, budaya, objek wisata hingga kuliner.

Oh iya, ada beberapa destinasi atau tujuan wisata terutama di Eropa, Amerika dan Australia yang biasanya rombongan dari Indonesia nggak didampingi oleh seorang TG, jadi, TL nya harus merangkap jadi TG juga. So, mau nggak mau harus pelajari juga sampai ke tetek bengeknya misalnya dimana tempat suvenir murah sampai letak toilet umum pun sebaiknya tau.

Gimana caranya untuk mempelajari itu semua? Jangan takut! Lain dulu, lain sekarang. Dulu, para TL pasti kopernya berat karena isinya ada bermacam buku, fotokopian sampai beragam jenis peta sebagai bahan referensi dan panduan perjalanan. Kalau sekarang, teknologi udah makin canggih. Semua udah ada di internet. Pas lagi traveling pun supaya bawaan nggak berat tinggal bawa smartphone atau tablet kemudian cari wifi atau pasang sim card lokal operator untuk data maka kita bisa online kemana pun kita bepergian. Sekarang, dunia cuma selebar layar henpon.

Selain ngandelin internet untuk cari referensi, kita juga bisa belajar dari buku, novel, blog, ikutan komunitas jalan-jalan dimana kita bisa saling berbagi dan belajar dari mereka yang berpengalaman dalam traveling. Atau ikut bergabung dalam satu asosiasi yang isinya adalah para traveler kelas berat yang udah menjelajah sampai ke berbagai pelosok dunia seperti Indonesian Tour Leader Association (ITLA). Di sini lah tempat saling berbaginya para TL. Berbagi ilmu, pengetahuan, pengalaman, baik melalui sharing secara pribadi atau melalui workshop atau pelatihan untuk ningkatin kemampuan dan pengetahuan.



Setelah Perjalanan

Setelah kembali ke Indonesia, bukan berarti langsung bubar jalan. TL harus membuat laporan perjalanan menyangkut kendala, keluhan, fasilitas hotel, makanan selama perjalanan hingga laporan keuangan. Kalau nggak bikin laporan tar kita dikejer-kejer orang travelnya. Dan kalau kita nggak bisa mempertanggung jawabkannya, bisa-bisa diblacklist.



ȹȹȹ



Jam terbang saya di dunia TL ini masih tergolong “anak bawang”. Perjalanan masih panjang. Saya tau profesi ini nggak mudah untuk dijalani, terkadang bahkan sangat melelahkan. Tapi rasa lelah itu terbayar dengan begitu banyaknya hal luar biasa yang bisa dijelajahi, dinikmati yang bagi jutaan manusia di bumi hanya bisa dibayangkan dalam mimpi.

Profesi apapun jika ditekuni dengan baik, bisa bikin kaya, bukan? Nggak cuma kaya secara finansial alias banyak duit buat bantu mewujudkan impian kita dan orang-orang yang kita cintai tapi juga kaya akan pengalaman, kaya akan wawasan, kaya akan cerita. Pengalaman, wawasan, cerita yang dimiliki oleh seorang TL adalah aset. Kalau tau menggunakan asetnya ini maka seorang TL kedepannya bisa jadi seorang story teller, seorang penulis, hingga menjadi seorang motivator yang hebat yang kelak bisa menginsiprasi banyak orang untuk meraih cita-citanya dan dapet jodoh ~ jeritan batin TL jomblo. Eaaaaaa.

Saya harus berterimakasih sama seorang sahabat, rekan seprofesi dan sekaligus guru. Dia lah yang menyemangati saya untuk berani mewujudkan mimpi jadi seorang TL. Dia pula lah orang pertama yang menjejali saya dengan kisah petualangan yang bikin saya nggak bisa tidur. Dia juga lah yang nggak lelah berbagi segala hal penting berkaitan dengan dunia per-tour leader-an meskipun tanpa saya sadari dia sedang bergelut dengan sakit. Dan, dia pula lah yang membukakan jalan bagi saya hingga bisa menjelajah lebih dari 30 negara di lima benua hanya dalam waktu 4 tahun.

Tapi, sayang, dia nggak bisa baca kisah petualangan saya ini karena dia lebih dulu meninggalkan dunia ini untuk selamanya.

Tubagus Arief Satria (Arief)! Makasih ya Rief untuk kisah hebat yang lo kasih buat gue. I share this story to our brothers and sisters and I dedicate it to you, buddy.

“Rief, ternyata ngeunah euy udar ider kuliling dunia jadi tour leader, teh. Nuhun pisan nya!” (Rief, ternyata enak ya traveling keliling dunia jadi tour leader. Makakasih banyak ya!)

Alm. Tubagus Arief Satria



Teaser: Bagaimana dengan kamu? Apakah profesi impianmu? Siapakah orang yang paling berjasa dalam mewujudkan impianmu? Have you thanked them? Baca terus kelanjutan kisah Traveler Modis karena ada banyak tips dan cerita seru lainnya. I'll be right back!


You Might Also Like

13 komentar

  1. Keren tulisannya fi. Membuka wawasan orang tentang TL.
    Dari kuliah enhai dulu gw pengen banget jadi TL, tapi nggak kesampaian kerja di travel. Akhirnya cuma bisa bikin grup tour kecil2an aja trus jadi TL sendiri..hehe.
    Abis baca ini kok pengen jadi TL yang lebih profesional ya.

    Ajak aku kak!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah dirimu keren udah punya usaha trip organizer sendiri. Semangaaaat ya. Semoga lancar dan sukses yaaaaa.
      Btw, thanks udah mampir dan kasih komen. Kalo mo sharing ttg dunia trip/tl hayuk boleh banget.

      Hapus
  2. informatif lengkap keceh inspiratif..asik bgt baca tulisanmu fi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih mba Wawa udah mampir. Makasih lo buat pujiannya. Semoga gue rajin nulis yaaaaaak ;)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Hei asyiiiiik dirimu mampir. Makasih ya bun udah mampir ;)

      Hapus
  4. Hauahhahahahaa idfi....cie cie cie jam terbangnya makin maju aja loe cuiiiii btw gak ngajak ngajak rekomen gw lo.....kapan ngumpul sharing...????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sansannnnn ... ish makasih lo sempet2in komen di tengah kesibukan lo sbg guide kondiaaaang ;) hayuuuk sharing2 ... kapan lo di jkt?

      Hapus
  5. Slalu baca tulisan di blog ini pas ada notifikasi di FB....seru n bikin pengen baca terus...Alm. Arief slalu ada di hati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah bener banget. Alm. Arief selalu ada di Hati. How I love you both dan ga tau gimana cara balesnya. Makasih ya Meta. Makasih(Alm) Arief. *Hugs

      Hapus
  6. Kereeeeeeeen, 30 negara dalam 4 tahun...
    Sukses Mas Id, aku tunggu cerita-cerita yang lain...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaaaaaap! Makasih ya udah mampir dan komen ;) bantu share di socmedmu yaaa siapa tau bisa menghibur dan bermanfaat buat network/sodar/temem2nya makasihhhh ;)

      Hapus
  7. ajegileeee 4 tahun udah lebih dari 30 negara.
    jam terbangnya tinggi amaaaattt!

    BalasHapus

Popular Posts

Follow by Email