Impian vs Kenyataan

22.12


S

elama bertahun-tahun saya sempat terombang-ambing dalam mimpi: jadi artis? Keliling dunia? artis? Keliling dunia? Atau jadi pelukis biar sekeren dan sebeken Pak Tino Sidin yang di tahun 80-an acara gambar menggambarnya jadi tontonan favorit anak-anak Indonesia generasi TVRI? Tuh kan dari kecil, diem-diem, emang pengen beken.  Saya juga bingung ada apa sih dengan dunia keartisan atau selebritas ini? What’s so spesial? Kenapa ngebet ke situ? Saya sendiri nggak pernah tau jawabannya.

Cuma kayaknya seru aja tampil di televisi. Kalau traveling, ya, udah jelas menarik banget. Bisa keliling dunia. Dambaan jutaan manusia itu mah. Tapi seiring bergeraknya waktu, saya semakin sadar bahwa melihat dunia jauh lebih seksi dari hanya sekedar jadi bintang televisi. Tapi saat itu saya masih belum yakin.

Jadi, saya biarkan diri saya mencoba hal-hal yang saya anggap berpotensi mengarah ke dua bidang itu. Kadang kita nggak pernah tahu nasib akan membawa kita kemana,  kan? Ada yang bilang bahwa kita harus fokus dengan satu hal atau satu bidang. Ada yang bilang coba lah hal-hal yang memang menarik perhatianmu daripada mati penasaran. Biarkan waktu yang menjawab.

Sepertinya saya mengikuti paham yang kedua, mencoba banyak hal, mencoba banyak kemungkinan, biar banyak cerita, biar kaya pengalaman dan siapa tau ujung-ujungnya bisa mengarah menuju terwujudnya impian terbesar saya yaitu keliling dunia.

Berikut adalah hal-hal yang pernah saya lakukan, demi mewujudkan impian, sejak saya masih imut-imut sampai cukup dewasa untuk melakukan hal yang amit-amit.

Jadi Petenis Dunia #maunya

Waktu SMP saya ngebet pengen jadi petenis. Biar bisa menjadi seperti Andre Agassi (petenis idola tahun 90-an), saya pikir. Tujuan saya kalo saya jadi petenis, cuma satu, saya bisa traveling ke Inggris ikut turnamen tenis paling bergengsi di dunia, turnamen Grand Slam Wimbledon. Udah kebayang, tuh, saya bertanding lawan Andre Agassi ditonton oleh ratu Elizabeth dan Lady Diana. Bisa salaman sama sang ratu dan cipika-cipiki dengan Lady Diana (Fyi, pas Lady Diana meninggal gara-gara tabrakan di Paris, saya sedih banget. Cita-cita salaman dan cipika cipiki sama Lady Diana pupus sudah).

Tapi, raket aja gak punya, ya gimana bisa jadi petenis?

Waktu itu orangtua nggak ngedukung saya jadi petenis. Olahraga yang mahal, mereka pikir. Ya udah, supaya bisa maksa ayah beli raket, saya rajin nongkrong di sawah. Lha, katanya mau jadi petenis? kok, nongkrongnya di sawah bukan di lapangan tenis? Iya, tiap weekend, saya bela-belain nginep di rumah sodara di daerah timur Bandung yang kebetulan rumahnya pas di depan sawah dan sawahnya di belakang lapangan tenis. Nggak jadi pemungut bola di lapangan tenis, di sawah pun jadi. Resiko terbesarnya paling kulit jadi item dan budugan (borok di kulit).

Saking banyaknya bola tenis yang nyemplung ke sawah, saya bisa panen bola tenis. Sementara yang punya sawah pasti ngebatin. Lah, gimana mau panen, padinya aja diinjek-injek anak-anak bengal pemburu bola tenis. Jadinya kami sering kucing-kucingan dan kejar-kejaran dengan yang punya sawah. Kalo ketangkep bisa-bisa diiket di tengah-tengah sawah macam orang-orangan sawah lalu diseruduk kebo. Aah tatutttttt!

Anyway, bola-bola yang saya panen biasanya udah nggak cakep karena pasti belepotan lumpur sawah. Tapi, dengan sabar saya bersihin. Terus, tiap hari saya gebukin bola tenisnya ke dinding rumah tetangga pake penggebuk kasur terbuat dari rotan. Nggak ada raket, penggebuk kasur rotan pun jadi. Alhasil, tetangga jerit-jerit karena kegiatan “bobo-bobo lucunya” terganggu oleh berisiknya bunyi pantulan bola tenis dan dinding rumahnya retak-retak gara-gara “digebukin” mulu. Akhirnya orang tua saya nyerah. Mereka beliin raket tenis dan masukin saya ke club tenis supaya bisa mewujudkan impian anaknya agar suatu saat nanti bisa ke Inggris ikut Wimbledon.

Tapi setelah 5 tahun berjemur hampir tiap hari di lapangan tenis, saya malah tobat jadi petenis gara-gara kulit jadi item, jerawatan, jelek banget dan nggak ada yang mau jadi pacar saya. Puncak-puncaknya ketika ibu saya ngajak konsultasi ke dokter tapi malah bawa saya ke dokter yang salah. Harusnya ke dokter kulit, malah nyasar ke psikiater. Mak, jerawat gue yang menggila bukan guenya yang gila!

Result: Tenis belum berhasil membawa saya tampil di tipi dan tidak juga keliling dunia.

Jadi Model ... cieeee...

Di akhir tahun 90-an saya nekat ikut pemilihan model majalah remaja (duh ... malu banget dengan pengakuan ini). Saya nggak jelek-jelek amat loh. Senyum tiga jari saya nggak kalah sama senyum tiga jari ala Indra Bekti. Dan, saya pikir kalau jadi model, bisa ditawarin pemotretan di berbagai tempat di Indonesia. Kan, bisa sekalian traveling tuh.

Tapi gimana mau kepilih jadi model, difotonya aja di studio foto abal-abal tempat orang bikin paspoto dengan backdrop warna-warna dekil yang photografernya pasti nyuruh yang dipoto nempelin jari telunjuknya ke pipi. Jadul banget. Mana foto nya culun gitu, cemong lagi (panitianya, kali, mikir ini anak mau ikutan pemilihan model majalah remaja apa ngelenong).

Result: GATOT (Gagal Total)! NO TV, NO Traveling. NONGOL di majalah aja kagak!

Jadi Clubber

Saya juga pernah jadi clubber sejati selama bertahun-tahun. Bukan clubber yang demen ke club disko, tapi clubber versi alim yang rajin belajar dan praktek percakapan bahasa Inggris dari satu English club ke English club lainnya.  Pernah ada yang bilang kalo bahasa Inggris itu pintu gerbang dunia. Semakin lancar ngoceh pake bahasa Inggris, semakin terbuka kesempatan untuk bisa keliling dunia. Soalnya, saya pikir, kalo cuma lancar bahasa Sunda aja palingan traveling-nya ke Sumedang doang, jajan tahu.

Selain jadi clubber, saya juga mencoba keberanian dengan mengikuti kompetisi bahasa Inggris muali dari lomba baca pusi, lomba baca berita, sampai lomba permainan scrabble. Tujuannya selain untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris juga untuk meningkatkan rasa PD (percaya diri). Oh ya waktu remaja dulu saya punya masalah dengan rasa malu dan percaya diri. Saya dikenal dengan sebutan kepiting rebus akibat wajah merah saat rasa malu menyerang. Meski ada yang bilang saya makin ganteng ketika muka saya merah semu. Eaaaaaa!

Selain itu saya juga ikut kursus nyanyi, kursus bahasa Prancis dan kursus bahasa Italia. Sempet ada teman yang sinis dan berkata, “untuk apa kursus ini itu, kek kepake aja?!” Ish, sekecil apapun ilmu yang kita pelajari, yakin deh, pasti ada manfaatnya suatu hari nanti.

Result: Nah, ini jalan yang lumayan bener nih. Bisa bahasa Inggris jadi modal buat dapetin kesempatan luar biasa termasuk gampang dapet kerja. Dan, nggak sia-sia kursus ini itu karena kelak membawa saya menyebrang samudra ke belahan dunia lain bahkan traveling for free!

Jadi Penyanyi

Saya dulu pernah jadi anggota boysband loh! Ciyuuuus! Cuma saya sering diledek sama temen segroup karena suara saya kalau nyanyi kayak suara om-om. Siyal! Akhirnya saya kursus di Elfa’s Music School.

Result: Suara jadi makin oke dong, saya pun makin pede nyanyi. Juara nyanyi pernah saya raih sampai dikirim ke Prancis segala dan bahkan seorang musisi legendaris, almarhum Bang Elfa Secioria, suatu hari nelpon langsung menawarkan saya bergabung dengan tim choir-nya untuk berkompetisi di mancanegara. Tapi, saat itu saya nggak bias meninggalkan kerjaan. Akh, nyesel! Mungkin kalau saya ikut Bang El, mungkin, sekarang saya udah jadi penyanyi papan atas nyaingin Afghan. Tapi, apadaya saya masih aja jadi penyanyi papan gilesan. #nyanyisambilnyucibaju #nasib

Jadi Mahasiswa Jurusan Tavel dan Komunikasi

Ini adalah salah satu keputusan paling tepat yang saya ambil untuk memuluskan rencana traveling yaitu masuk Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) yang kabarnya merupakan salah satu sekolah perhotelan dan pariwisata terbaik di Asia Tenggara. Saya daftar di Diploma 3 (D-3) jurusan Manajemen Usaha Perjalanan Wisata (Tours and Travel). Segala hal yang berhubungan dengan dunia jalan-jalan dipelajari di sini: ticketing, tour operation, cargo handling, hingga reservasi hotel dan tour. Dan, favorit saya adalah tour guiding.

Kuliahnya dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore, tiap hari. Kuliah sehari-hari berasa eksekutif muda. Berseragam super rapih; kemeja lengan panjang, dasi batik berwarna coklat, celana panjang katun, dan sepatu pantopel hitam mengkilap. Lalu, mahasiswa/i semester tingkat akhir wajib menggunakan jas. Nggak boleh ada satu pun noda di seragam kita. Rambut harus kelimis.  Nggak boleh ada kumis atau jenggot. Untuk mahasiswi, bibir harus merah menyala. Para mahasiswi senior, makin tinggi tingkatannya, makin menor dandanannya dan makin tinggi pula rok nya. #eaaa salah focus

Setelah lulus dari jurusan Travel di STPB, setahun kemudian saya melanjutkan kuliah ke program ekstensi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (UNPAD) supaya saya punya bekal di bidang komunikasi dan pede saat harus berkomunikasi. Karena saya lihat banyak orang sukses punya kemampuan berkomunikasi yang baik.

Result: Background pendidikan ini kelak bermanfaat di profesi yang saya jalani di dunia travel

Jadi Duta Budaya

Tahun 2003 sempat mengikuti sebuah kontes pemilihan duta budaya, Mojang Jajaka Kota Bandung, sejenis Abang Nona Jakarta. Saya ikut pemilihan ini dengan tujuan siapa tau bisa jadi duta budaya, minimal bisa ke berbagai daerah di Indonesia untuk mempromosikan kota Bandung.

Hasilnya, kata rumor yang beredar, dikarenakan badan saya pendek, hidung saya kemancungan, wajah saya ke bule-bulean dan kebetulan kostum yang saya pakai berwarna oranye yang membuat saya terlihat lebih mirip jajaka ‘londo’ (bule) versi kurang tinggi dari pada jajaka Bandung maka saya pun dinyatakan nggak menang. Tapi, biarpun nggak menang, saya dapat gelar hiburan loh sebagai Jajaka Calakan alias Jajaka serba bisa. Tsaaaah!

Setelah pemilihan itu, saya sangat bersemangat untuk menyongsong tugas sebagai duta budaya Bandung. Saya pun sering membayangkan bepergian ke pelosok Indonesia sebagai duta budaya. Saya tunggu tawaran untuk jadi duta budaya itu. Nunggu dan nunggu. Krik krik krik. Tawaran itu nggak pernah dating.

Result: Bukannya jadi duta wisata, saya malah mejeng dengan senyum manis manja jadi  PAGER BAGUS di acara kawinan. Berasa kek boneka di Istana Boneka DUFAN, senyuuuum terus. Nggak banget deh!!

Jadi Diplomat tapi ....

Ini salah satu impian saya yang berusaha saya wujudkan di tahun 2005. Saya membayangkan jika saya jadi diplomat maka saya bisa menjelajah berbagai negara di dunia dan menjadi duta besar suatu saat nanti. Woooooo keren!

Saya ikuti tes yang diselengarakan Departemen Luar Negeri (DEPLU). Dari mulai tes pengetahuan umum, tes bahasa Inggris, tes psikotes, tes wawancara dengan akademisi dan diplomat berhasil saya lalui dengan cukup baik. Bahkan ketika selesai diwawancara oleh salah seorang diplomat, beliau memeluk saya sambil mengucapkan, “Welcome aboard! I have never seen a candidate like you. I am sure that you will be part of us!”

Waaa senang banget dapat sambutan dan pujian dari seorang diplomat yang puas dengan hasil wawancara saya.

Tapi saat tahap wawancara akhir dengan psikolog yang menjadi penentu lolos atau tidaknya peserta tes, sang psikolog bilang,

”Kamu adalah seorang berjiwa bebas dan kreatif. Birokrasi akan mengekang kebebasanmu dan kekreatifitasanmu. Ingat bahwa terjun ke dunia diplomasi tidak harus melalui DEPLU! kamu bisa melakukannya melalui bidang yang benar-benar kamu minati dan nikmati!”

Nama saya pun tidak ada di daftar peserta yang lolos menjadi calon diplomat.

Tapi saya jadi sadar bahwa mungkin ada kesempatan yang lebih besar lagi bagi saya suatu saat nanti untuk bisa berpartisipasi di bidang diplomasi, mungkin melalui dunia keartisan. #tetep ngarep jadi artis!

Result: Sang psikolog benar! Bertahun-tahun kemudian saya menjadi duta budaya dan mempromosikan Indonesia sebagai tour guide.

Jadi Agen Asuransi

Ini dia profesi yang nggak pernah kepikiran tapi tiba-tiba muncul dalam hidup saya dan saya sempat jalani lima tahun lamanya (2006-2011).

Harus saya akui bahwa para agen asuansi adalah orang-orang yang luar biasa. Cara mereka bertutur bisa membius terutama bagi manusia-manusia galau. Kayaknya mulutnya mereka ‘berbisa’.

Pertama kali saya kepincut jadi agen asuransi karena ngiler ngeliat presentasi di salah satu kantor agen. Pembicaranya engkoh-engkoh berjas kedodoran yang cara ngomongnya belepotan tapi semangatnya menggelora. Mantan pengusaha mebel yang jatuh bangkrut karena kerusuhan tahun 1998 itu bergabung di perusahaan asuransi jadi agen di awal tahun 2000-an. Dalam empat hingga lima tahun dia bisa dapet penghasilan seratus juta per bulan dan bonus traveling ke berbagai negara setiap tahunnya. Wooooo, kalau si engkoh aja yang ngomongnya belepotan itu bisa sukses kenapa gue nggak, pikir saya. Bisa dapat income ratusan juta dan bonus jalan-jalan keluar negeri, gimana nggak ngeces?! Bener-bener menggoda!

Dengan misi mensosialisasikan pentingnya berasuransi dan berinvestasi, saya pun sempat menikmati manisnya menjadi agen asuransi. Dengan setulus hati saja jalani misi baik dengan keluar masuk rumah sakit nengok dan menghibur kawan-kawan yang tengah terbaring sakit serta membantu menangani claim asuransi mereka.

Namun, meski dikelilingi orang-orang dengan tingkat semangat di atas rata-rata dan pendapatan yang lumayan besar ternyata nggak bikin saya bahagia. Kerja dikejar target penjualan asuransi bukan passion saya.

Result: Sempat dapat bonus traveling gratis ke Bali di awal-awal karir tapi kemudian mandeg! Tapi saya dapat banyak ilmu dan sahabat baru karena bisnis ini.

Jadi Penyiar Radio, MC & Kerja di Televisi

Tahun 2000 saya, yang saat itu masih dikategorikan pemalu dan nggak pedean, memutuskan untuk mencoba peruntungan di bidang broadcasting. Saya berpikir kalau mau memiliki kemampuan berkomunikasi yang mumpuni, jadi penyiar adalah jawabannya. Siapa tau bisa juga jadi artis. Kan banyak artis mengawali karirnya dari dunia radio. Ternyata saya diterima jadi penyiar di salah satu radio anak muda di kota Bandung, Ardan FM. Alhamdulillah.

Mulailah saya malang melintang jadi “sekuter” alias selebriti kurang terkenal saat bekerja sebagai penyiar radio dan sempat menjadi anggota boys band yang beranggotakan para penyiar di Ardan FM, Ardan Boys.

Salah satu hal yang paling saya sukai dari profesi ini adalah kesempatan bisa bertemu sekaligus mewawancarai selebrity dunia. The Cranberries hingga Alicia Keys pernah saya wawancarai. Radio was truely fun!

Setelah lebih dari 4 tahun berkiprah di dunia radio, saya pun memutuskan hijrah ke Jakarta.

Sebetulnya, saya nggak pernah bermimpi hijrah ke Jakarta karena saya selalu beranggapan kalau Jakarta itu ruwet, macet, bikin stress, belum lagi orang-orangnya songong. Tapi, di sisi lain, jiwa banci tampil yang udah terbentuk dari 4 tahun-an bekerja sebagai penyiar radio membuat saya berpikir “KALO GUE NGGAK KE JAKARTA, KAPAN GUE JADI ARTISNYA?!” *sigh

Awal tahun 2004 saat gencar promosi besar-besaran salah satu stasiun televisi yang tengah naik daun, Trans TV, mencari tenaga broadcast handal melalui Broadcast Development Program (BDP) 3A bikin hidup saya benar-benar bergairah karena ini berarti kesempatan untuk jadi artis atau jadi presenter ada di pelupuk mata.

Saya daftar dengan penuh semangat dan rasa percaya diri. Kemudian, ikut ujian tertulis dengan rasa optimisme tingkat tinggi, senyum lebar merekah dan penuh keyakinan bahwa sesaat lagi akan nongol di televisi.

Jreng jreng ... begitu liat soal ujian, “SOAL APAAN NIH?”, acara berburu makhluk gaib di Trans TV aja nggak tau judulnya apa! Saya jawab aja “UKA-UKA” dan setelah bertanya ke seorang teman yang maniak Trans TV akhirnya saya tahu bahwa “DUNIA LAIN” adalah jawabannya. Well, udah bisa ditebak saya dinyatakan GAK LULUS. Kamfret! Berhari-hari kemudian mukaku dikuasai si BIMOLI, bibir monyong lima senti. Tiada hari tanpa cemberut mengutuk kebodohan.

Saya sempet merasa drop setelah dinyatakan nggak lulus. Tapi sebagai pejuang yang memperjuangkan tergapainya cita-cita untuk tampil di televisi, nggak lantas membuat saya nyerah begitu saja. Ibarat pepatah “Pucuk dicinta ulam pun tiba”, nggak disangka, beberapa minggu setelah gagal test, Trans TV mengadakan test khusus untuk orang-orang media berlokasi di Mall terbesar di kota Bandung. Dan, setelah melalui proses wawancara teraneh karena harus nyanyi 3 lagu, saya pun dinyatakan LULUS.

Horeeeeee! Alhamdulillah sesuatu banget. Posisi yang saya dapatkan adalah sebagai Floor Director (FD). Loh loh kok bukan presenter ya? (saya beranggapan kalau menjadi presenter adalah gerbang menuju keartisan dan traveling) tapi nggak apalah, yang penting bekerja di dunia pertelevisian dan menjadikan FD ini sebagai batu loncatan meskipun dalam hati bertanya-tanya, “Eh, FD itu kerjaannya ngapain ya? NGEPEL?”

Bulan April tahun 2004, saya mulai bergerilya sebagai TV broadcaster. Floor Director (FD) jadi profesi baru saya. Pengarah lapangan, semacam asisten sutradara, itu lah FD. Name tag berwarna putih bertuliskan Floor Director tersemat di dada. Ada rasa bangga bergemuruh di dada meski harus pergi pagi pulang pagi pantat paha pinggul pegal-pegal pulang-pulang pingsan pendapatan pas-pasan pula. Gajinya lumayan sih, 12 koma. Bukan 12 juta koma sekian rupiah ya tapi tiap bulan setelah tanggal 12 ya koma, kejet-kejet sekarat keabisan duit. Tapi senyum selalu mengembang karena selalu terbayang tujuan akan dan harus tercapai.

Sebagai FD, saya memang dituntut untuk selalu senyum mengingat saya bertugas mengatur alur acara di lapangan (studio), dan harus bertatap muka dengan banyak orang dari mulai sesama crew, para pendukung acara sekaligus memandu serta menghibur penonton.

Selain itu, di waktu luang, saya suka iseng-iseng ikut reporter divisi berita atau creative program infotainment Insert atau program lain saat liputan biar bisa jalan-jalan, makan-makan gratis dan yang penting bisa inframe alias nongol di layar kaca (gimana yaaa … namanya juga banci tampil).

Hingga akhirnya tawaran untuk ikut terlibat dalam sebuah produksi program TV pun datang. Rasanya bahagia sekali meski hanya “nongol” sekian detik dari dalam kotak kayu yang dirancang seolah-olah berfungsi sebagai music box saat berperan sebagai the talking music box di program extravaganza yang fenomenal (wow, ini adalah kemunculan perdana di Trans TV). Pernah dapat peran di pilot project (lagi-lagi) program SO What Gitu Loh (SWGTL) yang dibintangi oleh Indra herlambang, Cut Tary dkk, meski nggak dapat bayaran sama sekali tapi tetep ngerasa jadi orang paling beruntung di dunia karena impian menjadi artis di pelupuk mata. That’s me a happy budgetless talent!

Nggak jarang saya pun ngalamin kejadian apes. Pernah tiba-tiba dimaki-maki oleh camera person (crew yang bertugas sebagai penata gambar) – yang satu pria dan satunya lagi perempuan, dan dua-duanya bilang, “GUE HAJAR LOE PAKE KAMERA!!! Ihhh, serem ya, nabrak-nabrak orang kok pakai kamera, kan kasihan kameranya. Atau  Pernah pula dapat peran sebagai stylist bencong dalam pilot project program Catatan Cantik (untung nggak on air ... *sujud syukur) yang kemudian tetap membuat saya jadi sasaran ledekan temen-temen dan sukses bikin saya pengen ngumpet berminggu-minggu. Siyal!

Pernah pula ngerasa sangat excited waktu dapet peran di  SWGTL, biarpun perannya cuma jadi tukang Koran dan meskipun disuruh standby dari jam 8 malam dan bagian saya baru shot jam setengah empat pagi tapi seenggaknya saya dapat HONOR!!!! Honornya berapa? Catetttt: DUA PULUH RIBU PERAK!  Lumayan, buat beli keripik MA ICIH level 10. PEDES! Sepedes bayarannya.

Pernah pula ketar-ketir saat bertugas sebagai FD dalam salah satu program komedi. Salah satu artis perempuan bertubuh sintal yang lagi acting to the max tiba-tiba kembennya melorot dan semakin melorot meskipun saat itu saya udah jungkir balik kasih kode supaya sang artis narik kembennya ke atas tapi peringatan itu terlambat. Saya ditakdirkan untuk menyaksikan, maaf, tetek sang artis nongol tanpa dosa dan itu siaran langsung. Nggak tau musti bilang astagfirullah atau alhamdulillah. Speechless.

Selama kurang lebih 3,5 tahun saya dapat banyak pengalaman berharga dan nggak terlupakan selama bekerja di Stasiun Televisi Milik Kita Bersama tersebut  namun kejadian “disidang” dengan kata-kata kurang pantas dan dilempar Handy Talky (HT) oleh salah satu petinggi di depan rekan-rekan kerja saat bertugas di salah satu program membuat saya berpikir untuk mengakhiri kiprah sebagai FD dan sekaligus mengakhiri mengejar mimpi jadi artis di stasiun televisi tersebut. Saya pun akhirnya memutuskan hengkang. Kemudian, berkiprah dari panggung ke panggung sebagai Master of Ceremony (MC).

Namun, berhenti kerja di stasiun tv bukan berarti menyerah karena ibarat pepatah bukankah ada banyak jalan menuju ke Roma?

Nggak gampang ternyata menggapai mimpi di ibukota. Tapi lembaran baru harus segera dibuka.

“Bagaimanakah saya harus mengepakkan sayap dan harus hinggap kemanakah saya? Haruskah saya melanjutkan perjuangan mewujudkan impian jadi artis kondang? Apa artis kondangan dan bernasib seperti ANANG KRISDAYANTI alias ARTIS NANGGUNG (dengan) KRISIS PENDAPATAN YANG TIADA HENTI! Atau kah beralih ke bidang lain? Traveling? Haruskah saya kembali pulang kampung ke Bandung? Haruskah saya hengkang ke Luar negeri? Apakah saya harus bertahan di Jakarta?” #galau


You Might Also Like

2 komentar

  1. Bagian ini favoritku!

    ... "pergi pagi pulang pagi pantat paha pinggul pegal-pegal pulang-pulang pingsan pendapatan pas-pasan pula."

    Masih bingung mau jadi apa?

    1. Jalanilah hidup dan pekerjaan yang kamu sukai!
    2. Lakukan sekarang atau mundur saat ini juga
    3. Maju selangkah setiap hari menuju masa depan yang diinginkan.
    4. Terus belajar seumur hidup
    5. Pecayalah, kamu bisa lakukan apa saja!

    Good luck ya...


    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbak Rosanna Simanjuntak buat semangatnya :) aaminnnnn ...

      Hapus

Popular Posts

Follow by Email