Artis vs Traveler

00.58



H

ai perkenalkan, nama saya Idfi Pancani Putratipaparoni. Meskipun nama belakang saya terdengar seperti tukang pizza tapi saya bukan Orang Italia. Saya artikan nama saya, ya. Idfi itu singkatan dari Idul Fitri, Pancani itu diambil dari kata Pancasila (saya lahir di hari Kesaktian Pancasila) dan Putratipaparoni artinya: putra berarti anak, ti (bahasa Sunda) artinya dari, papa berarti bapak, roni itu nama ayah saya. Jadi, Idfi Pancani anaknya Bapak Roni, itulah artinya.



Putratipaparoni, saya jadikan nama belakang sebagai bentuk penghormatan saya kepada ayah. Mama saya asli Pasir Jengkol, Garut. Papa saya asli Cibaduyut, Bandung.  From Garut to Cibaduyut With Love” begitulah judulnya. Jadinya, ya, seperti saya ini, kece. Anaknya Papa Roni ini mirip Nicolas Saputra loh. Oh ya, Umur saya masih 18 kok. *eaaaaaaaaa



Waktu saya kecil, mama sering bilang kalau rambut saya yang ikal, kulit yang putih, hidung yang mancung dan wajah yang ganteng membuat saya mirip dengan bintang idola tahun 70 – 80-an, Roy Martin ((kalau jaman sekarang, mungkin, Om Roy beda-beda tipis dengan Nicholas Saputra, Reza Rahardian, Raffi Ahmad atau Aliando). Mama juga sering bilang ke sodara, teman dan kerabatnya kalau anak tengahnya adalah titisan Roy Martin.



Diam-diam saya sering nongkrongin televisi menunggu kemunculan Roy Martin di TVRI, saluran televisi kebanggaan negeri sekaligus satu-satunya stasiun yang mengudara di Indonesia waktu itu. Ya, saya adalah anak generasi TVRI. Bukan anak nongkrong MTV, bukan pula generasi NET TV. Idfi kecil dibesarkan di saat Roy Martin tengah jaya-jayanya di layar kaca. Eh, eh, wait … wait … pada tau nggak ya Roy martin itu yang mana? Pokoknya, beliau Berjaya saat  RafFi Ahmad belum lahir. Aliando belum “dibikin”. Om Roy itu papanya Gading Martin!



Pokoknya gegara om Roy. Saya pun jadi terobsesi untuk jadi seperti beliau, kepengen jadi bintang televisi, aktor, artis, selebritis apapun juga sebutannya yang penting tampil di televisi. Mungkin nama IDFI itu bisa juga berarti IDola tiFI (TV) J



Makanya, meskipun pemalu, sedari kecil saya udah sering tampil di hadapan banyak orang. Apapun akan saya lakukan biar eksis. Dari  menari jaipongan hingga nyanyi meski dengan lirik yang ngaco. Nyanyi dengan lirik dari Ujong Kulon ke Ujung Berung alias kaga nyambung ini juga ternyata jadi penyakit dua saudara kandung saya.



Di sisi lain saya dibesarkan dengan Dunia Dalam Berita (tayangan siaran berita internasional TVRI), bacaan-bacaan kisah petualangan Trio Detektif, serial Lima Sekawan karya Enid Blyton, petualangan Tin-Tin atau petualangan Paman Janggut di Majalah BOBO. Kisah-kisah petualangan itu dan tayangan Dunia Dalam Berita udah meracuni saya sampai ke tulang rusuk sehingga saya tumbuh menjadi tukang khayal. Dan dalam khayalan, saya sering bertualang, menjelajah dunia.



Ada satu pengalaman yang nggak mungkin lupa, jauh sebelum saya tenggelam dengan Dunia Dalam Berita, kisah petualangan Trio Detektif, Lima Sekawan, Tin-Tin dan Paman Janggut. Satu sore tahun 1984,  ketika saya belum genap berusia 6 tahun bersama seorang teman masa kecil, Firman, yang juga seumuran, kami berjalan kaki dari rumah ke tempat kerja mama tanpa sepengetahuan beliau. Jarak dari rumah di Jalan Kopo, Bandung ke tempat kerja mama di sebuah salon milik uwak Omah (kakak terbesar Papa) di Jalan Gurame kurang lebih enam kilometer. Jalan kaki, loh!



Kami sangat menikmati petualangan itu. Dalam petualangan itu saya jadi pemimpinnya. Saya jelaskan banyak hal ke Firman. Dari mulai tentang angkot (angkutan kota), becak, Alun-alun kota Bandung, Gunung Tangkuban Perahu, comro, cireng hingga bencong. Sok tau kali saya waktu itu. Baru kelas 1 SD tapi udah sok bergaya macam tour guide.



Tiba di tempat kerja mama, ternyata beliau sudah pulang. Saat itu jangankan handphone, telpon rumah saja belum banyak yang punya, termasuk orang tua saya. Setelah mendapatkan servis cuci rambut gratis dari salah satu teman kerja mama yang kebetulan belum pulang,  kami pun pulang naik becak dibayarin uwak.



Begitu tiba di depan gang rumah, adzan Isya tengah berkumandang. Langit udah gelap gulita, apalagi Bandung di tahun 80-an masih sepi, dan kami mendapati kerumunan orang membawa obor sambil memanggil-manggil nama seseorang.



Kami segera turun dari becak. Lalu, dengan polosnya saya bertanya kepada mereka, “AYA NAON MEUNI RAME?” (ada apa kok rame?).



Yang saya ingat berikutnya adalah Jerit tangis lega dan pelukan bahagia dari orang tua menyambut kedatangan kami, dua bocah nakal sok jadi petualang. Oh, ternyata mereka dan rombongan mencari kami berdua, toh. Alhamdulillah, kirain bakal di-spank (digebuk di bagian pantat).



Sejak kasus saya kabur bersama teman itu, orang tua saya selalu menyempatkan mengajak jalan-jalan ke-3 anaknya; Firly – si Sulung, saya sang anak tengah dan adik saya, Intan. Setiap akhir pekan, kami jalan-jalan dengan mobil minibus Suzuki butut buatan akhir 70-an dengan Ayah bertindak sebagai sopir merangkap jadi guide.



Rasanya bahagia banget bisa keliling kota Bandung dengan didongengi oleh Papa atau Mama yang silih berganti menceritakan banyak cerita nostalgia seputar Bandung tempo dulu; bangunan-bangunan berarsitektur Art Deco yang dibangun sekitar awal abad ke-20 seperti Hotel Savoy Homann, Gedung Merdeka. Diajak wisata kuliner ke tempat jajanan dan makanan enak khas Bandung seperti Batagor Isan, Warung Nasi Ampera, hingga Es krim dan Kue Canary di Jalan Braga. Cerita mereka sepertinya nggak pernah ada habisnya dan jalan-jalan bersama orang tua yang doyan berceloteh itu sesuatu banget.



ȹȹȹ





Maksud saya menceritakan kisah colongan tentang masa lalu saya adalah untuk menujukkan kaitannya antara masa lalu dengan masa sekarang.



I am how I grew up



Bagaimana saya dibesarkan dulu akan mempengaruhi diri saya di hari kemudian. Karena semasa kecil dulu sering dibanding-bandingkan dengan Roy Martin maka saya tumbuh dengan memendam hasrat untuk menjadi seperti beliau, jadi artis. Di sisi lain, dengan membaca kisah petualangan serta seringnya jalan-jalan bersama keluarga ditambah dengan cerita yang berkesan saat jalan-jalan bersama orang tua rupanya berhasil menumbuhkan  minat terhadap story telling dan paling penting saya jatuh cinta dengan traveling. Saya ingin melihat dunia.



Jadi, manakah yang akhirnya saya pilih? Mengejar impian jadi artis kah atau jadi traveler kah?

(bersambung)

You Might Also Like

15 komentar

  1. kliatan banget generasi umur berapa.. hahaha.. ayo posting lagi Fi

    BalasHapus
    Balasan
    1. generasi Zayn Malik aku maaaah LOL

      Hapus
  2. Hahahaha, Kirain Idfi anak ke 5 karena Namanya pakai panca (Lima).

    BalasHapus
  3. Waah penasaran ama lanjutan ceritanyaaa....ditunggu idfi

    BalasHapus
    Balasan
    1. sip ... maaksih ya udah baca dan sempet2in mampir berkomen :)

      Hapus
  4. Waah penasaran ama lanjutan ceritanyaaa....ditunggu idfi

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. inshaallah :) makasih yaaaa udah mampir dan "ngedoain" :)

      Hapus
  6. Panjangnya namanya....
    Btw sama dong dari Garut juga...salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. waaa senangnya ada sesame orang Garut :) salam kenal juga yaaaa

      Hapus
  7. Hmm... berarti sepupu atuh sama Paparotti yak?
    Hahaha...
    Salam kenal dari bumi Borneo

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya sodaraan sama papaarotti tawar LOL
      salam kenal juga ya dari "THE BIG DURIAN" :)

      Hapus

Popular Posts

Follow by Email